"Rambutmu mulai berantakan, kukumu juga menghitam...jangan terlalu banyak bermain. Belajar yang rajin, biar sekolahmu maju. Jangan seperti kedua orang tuamu yang sebatas pendidikan sekolah dasar ini." Sebuah nasihat belasan tahun yang lalu, dari mulut seorang wanita.
Hingga kini mungkin masih sedikit nasihat yang teringat dan lebih banyak kejengkelan atau pemikiran kolot yang aku terima. Dua puluh tiga tahun dalam usiaku, hanya sedikit hal yang mampu membuatnya tersenyum bangga. Selebihnya hanyalah kekesalan mendidik dan mengarahkan aku untuk sekedar lebih baik atau rapi. Hingga kini tak ada yang aku hiraukan. Durhakakah aku? Mungkin iya, tapi aku tahu tak mungkin wanita ini mengutukku menjadi batu seperti legenda malin kundang. Aku hanyalah anak biasa yang mencoba menjadi diriku sendiri. Bukan, bukan maksud untuk berlaku melawannya. Bukan pula karena aku merasa lebih pintar hingga mengejar apa yang aku percaya, meninggalkan rasa kecewa untuknya.
Wanita ini, mungkin tak berarti bagi siapapun. Hanya bagiku dia adalah yang mengantarkan aku untuk bersekolah di hari pertama. Memandikan aku ketika terkena cacar air dengan dedaunan yang hingga kini aku lupa namanya. Membelikanku susu berhadiah, yang ku minta dengan tangis di depan toko kemudian ku buang dan hanya menyimpan hadiahnya. Wanita ini tak semenarik Lady Diana atau sebijak Bunda Theresa, tapi dia lebih mulia dari segala nama perempuan yang pernah aku dengar dengan segala kehebatannya.
Mungkin kalian akan mengira menceritakan seorang ibu. Tidak, aku hanya menceritakan seorang perempuan. Memang dia ibu dari kakak kandungku, juga diriku. Tapi tidak, aku tak akan menceritakan kebajikan seorang ibu seperti yang lainnya. Hanya bagaimana aku memandangnya sebagai seorang perempuan tunggal dalam keluarga. Memang kedaulatan dan kekuatan seorang ibu mampu mengantarkan siapapun yang menjadi anaknya untuk meraih hal-hal yang luar biasa. Senjatanya hanyalah doa dan kata. Bagiku seorang ibu hanya ada dalam lagu Iwan Fals. Siapapun akan memandang ibu dalam kebaikan dan kemuliaan ketika mereka mengingat kembali arti ibu. Tapi apa iya seorang ibu itu tanpa cela? Jawabannya jelas, ibu tetaplah manusia biasa dan seorang perempuan. Bagaimana aku melihat ibu adalah sumber dari segala ketidakmampuan yang aku pertegas.
Banyak hal di dunia ini yang tak aku pahami. Seperti ketidakmampuanku untuk melihat dunia yang dipertegas oleh ibu, apalah arti dunia jika dihadapkan oleh cara pandang seorang ibu, di matanya kita tak lebih anak kecil dengan bedak putih di pipi. Mungkin di hadapan dunia kita bisa memakai jas mewah beserta dasi yang mengkilap terpancar sorot lampu yang silau, tapi di hadapan ibu kita tak juga bisa mengusap ingus yang jatuh ketika kemarin sore minum es terlalu banyak. Mungkin juga di hadapan dunia kita bisa mengumpulkan harta yang melimpah, tapi tetaplah di hadapan ibu kita masih seperti bocah yang merengek minta jajan permen di warung ketika diajaknya berbelanja. Begitulah ibu tetap memandang kita walau dunia mampu kita genggam, tapi dunia bagi ibu adalah kita. Betapa berkuasanya seorang ibu. Sebab itu menceritakan seorang ibu sama halnya merangkum semesta dalam sebuah kotak kecil seperti pandora. Hanya akan menjadi harapan yang sia-sia jika tak kau pahami kembali maknanya.
Perempuan, bagi kaum lelaki yang dibesarkan dalam budaya patriarki akan selalu memandang perempuan serupa tanpa makna. Di kekinian yang kian gegap gempita dengan arus informasi, pengetahuan, dan teknologi yang kian menjadi. Perempuan serupa komoditas mencari eksistensi. Berapa banyak perempuan yang kau tiduri, berapa banyak perempuan yang kau buat terluka, atau yang lebih kekinian berapa harga satu malam untuk menidurinya. Perempuan adalah jenis kelamin yang diadakan tuhan untuk menemani lelaki. Mungkin itu dalih kebanyakan lelaki, tetapi apa iya itu berlaku untuk semua pemikiran perempuan? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Semua kembali lagi pada pribadi masing-masing.
Hingga pada akhirnya bagaimana kita menilai seorang perempuan. Berlaku seperti lelaki pada umumnya yang menilai harkat perempuan sebatas macak, masak, manak. Atau, berlaku seperti anak dihadapan ibu untuk semua perempuan. Dan sederetan kata ini tak ada maknanya dibanding hal kecil seperti doa ibu atau perempuan. Perempuan yang kelak juga akan menjadi seorang ibu, yang sama seperti ibuku dan juga ibumu. Yang berdiri dan mandiri di atas pemikirannya sendiri.
Posting Komentar