Hidup adalah perjalanan. Dan di dalam kehidupan manusia memerlukan alat untuk melakukan pekerjaan lebih mudah. Untuk menempuh perjalanan misalnya manusia menciptakan alat transportasi. Mulai dari dokar yang ditarik kuda atau sapi, beralih alat transportasi dengan tenaga manusia sendiri berupa sepeda. Hingga pada perkembangannya manusia menciptakan model alat transportasi bertenaga mesin. Sejarah mulai mencatat dengan mesin bertenaga uap hingga yang kini marak digunakan manusia berupa tenaga bahan bakar fosil.
Bahan bakar fosil atau lebih dikenal dengan bahan bakar minyak disingkat BBM. Di Indonesia sendiri BBM yang dipasarkan terdiri dari dua jenis yaitu bersubsidi maupun non-subsidi. BBM bersubsidi ditargetkan untuk pasar yang kurang mampu. Sementara BBM bersubsidi lebih dianjurkan bagi mereka yang merasa mampu.
BBM di Indonesia sudah seperti candu untuk masyarakat. Mengapa bisa candu? Ya, karena BBM dapat menimbulkan keresahan apabila ketersediaannya langka dan dapat mematikan akal sehat. Lebih khususnya BBM bersubsidi, bagi mereka yang belum beruntung secara finansial. Ketersediaan dan harga BBM bersubsidi bisa seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dapat menyusahkan penghidupan keseharian mereka. BBM bersubsidi terkait erat dengan kehidupan masyarakat misalnya harga bahan pokok sehari-hari bergantung pada ketersediaan dan harga BBM sendiri. Bukan rahasia lagi jika setiap kenaikan BBM diikuti dengan kenaikan bahan pokok. Hal ini yang semakin menyusahkan kehidupan masyarakat, terlebih anak kost.
Kenapa harus anak kost? Karena tak dapat dipungkiri anak kost yang kebanyakan beranggota mahasiswa dan pekerja yang merupakan tulang punggung dan penerus bangsa adalah cerminan paling mendekati kehidupan masyarakat jaman ini. Atau lebih tepatnya merekalah yang menjadi penjaga arah perjuangan negara ini selanjutnya. Ada beberapa hal yang harus ditanggung anak kost jika terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi. Berikut adalah permasalahan yang lebih menitik beratkan kesejahteraan anak kost dengan kenaikan harga BBM bersubsidi.
1. Ketahanan Pangan
Telah disebutkan sebelumnya jika anak kost adalah cerminan masyarakat modern saat ini. Kebanyakan anak kost baik mahasiswa ataupun pekerja begitu gagah pada awal bulan atau minggu. Ini berdasar pada uang kiriman atau gaji bulanan. Awal bulan kebiasaan berperilaku ala hedon tak bisa dipungkiri tidak. Hampir selalu. Perilaku konsumtif ini akan sedikit berkurang ketika hari dan tanggal mulai menjauh dari jatah datangnya uang kiriman dan gajian. Pertengahan bulan kebiasaan pola hidup sederhara. Hingga pada akhir bulan lebih dari mengencangkan ikat pinggang. Dengan kenaikan harga BBM, mahasiswa dituntut untuk lebih berhemat. Jalan lain dapat menggunakan dalih mendekatkan diri dengan tuhan dengan berpuasa. Maka kenaikan harga BBM yang mengurangi ketahanan pangan para anak kost dapat menjadi jalan lain bagi penerus bangsa yang lebih religius. Inilah celah yang mungkin bisa dimanfaatkan bagi laskar nasi bungkus untuk merekrut kader-kader muda yang akan begitu radikal. Karena permasalahan perut itu lebih berbahaya dari masalah percintaan bung...
2. Interaksi Sosial
Selain ketahanan pangan permasalahan lain adalah interaksi sosial yang mungkin akan terganggu. Anak kost hakikatnya adalah awal dari penerus-penerus bangsa dimana itu semua berawal dari interaksi sosial. Dalam kekinian interaksi sosial lebih tertitik beratkan pada media sosial yang mana tergantung dengan keberadaan koneksi internet. Bayangkan jika untuk menjaga ketahanan pangan saja anak kost harus dituntut untuk berpuasa, kok ya mau sempat beli paket internet. Jalan lain mungkin akan mencari koneksi wifi gratis. Lalu permasalahan lain akan datang, beli makan aja susah kok cari wifi. Bensin kendaraan akan dibuat sehemat mungkin, kalo ga buat kuliah ya cuma buat kerja. Jangan tanyakan untuk interaksi sosial yang bersifat pribadi semisal pacaran. Percintaan akan terasa lebih sulit dari biasanya. Dengan intensitas ketemuan yang berkurang dan komunikasi yang terbengkalai demi mengisi perut. Kemungkinan angka pertumbuhan jomblo semakin meningkat selaras dengan harga kenaikan BBM. Hal ini mungkin sedikit kabar gembira bagi anak kost yang kebetulan sedang jomblo. Populasi kalian akan bertambah...
3. Ancaman dari Pemilik Kost
Kehidupan anak kost akan semakin rumit dengan kenaikan harga BBM. Efek domino selain ketahanan pangan yang terancam, interaksi sosial yang akan berkurang, ditambah dengan ancaman kenaikan harga kost bulanan. Kenaikan harga BBM yang akan diikuti kenaikan bahan pokok sehari-hari juga akan diikuti oleh kebaikan harga listrik, air, mungkin juga tisu basah. Kenapa tisu basah penting? Tanyalah pada hati kecil anda sendiri. Kenaikan listrik dan air tentu menjadi pertimbangan pemilik kost untuk menaikan harga sewa kamar kost. Pikiran anak kost tentu semakin terkuras selain tuntutan menjaga ketahanan pangan dan interaksi sosialnya kini bertambah cobaan berupa kenaikan harga sewa kost. Dan hal tersering yang akan diterima anak kost setelah pengumuman kenaikan harga BBM adalah sapaan manis pemilik kost, "bulan depan harga kamar naik lo mas...". Bak diktator yang akan menghabisi lawan politiknya.
Tiga hal diatas adalah sebagian yang mungkin bisa diutarakan. Masih banyak yang sebenarnya dapat dituliskan, berhubung dengan tiga hal di atas sudah menjadi sedikit alasan untuk para anak kost bergerak meminta keadilannya bagi pemerintah. Sebagai penerus bangsa dan juga tulang punggung negara. Walau di balik itu semua permasalahan lebih berat dihadapi para orang tua anak kost yang menjabat mahasiswa. Selain dibuat pusing harga bahan kebutuhan pokok sehari-hari yang semakin merangkak naik, jatah uang kiriman untuk si anak juga selaras dengan kenaikan itu semua. Orang tua yang memiliki beban lebih berat dengan pengalamannya mungkin akan dapat memutar akal untuk mencukupinya. Tapi sebagai anak kost janganlah tunduk pada keadaan. Dan jangan juga Anda yang bukan anak kost atau orang yang terbiasa ngehek untuk tidak merendahkan perjuangan sebagian anak kost yang turun ke jalan menolak kenaikan harga BBM.
Mereka. Mereka hanya menjaga ketahanan pangan agar tak tersesat bersama laskar nasi bungkus, merawat interaksi sosialnya untuk tidak berakhir sebagai manusia yang sendiri, dan meredam ancaman pemilik kost. Biarlah mereka menuntut untuk diri mereka sendiri, untuk para orang tua mereka yang semakin terbebani, untuk para sopir kendaraan umum yang bingung membayar setoran, atau untuk memberi pelajaran pada pengguna mobil pribadi yang masih membeli BBM bersubsidi.
Bila negara memintamu menjadi alat kekuasaan, maka ajarkan pada negaramu bagaimana kekuasaan itu berasal dari hal yang paling lemah. Dalam perjalanan kehidupan yang lemah akan kuat disaat yang terkuat menindas. Memaklumi dan menerima apa saja yang diberikan, walau itu berupa ketidakadilan. Percayalah, biarkan dirimu sejenak merenungi ketidakadilan itu. Ketidakadilan di sekitarmu. Yang hidup bertahan dengan semboyan "hidup harus terus berjalan". Hidup dalam perjalanan adalah perjuangan.
Posting Komentar