Menarilah dalam rasa bersalah, tertawalah di genangan dan lumuran darah.
Menikmati daging sesama, menguapkan keringat di udara.
Bukan aku, bukan juga kami.
***
Ratu adil tak pernah ada.
Apalagi cerita penerusnya.
Secawan candu bernama agama.
Persetan.
Persetan.
Tuhan tak lagi fiksi, tak lagi dalam dialektika.
Hanya paparan dangkal dalil nabi, sisanya manusia lemah logika.
Kerumunan dalam kerumunan.
Tuhan dalam kekuasaan tuhan.
Bersembahyang di altar pembataian bhineka.
Tunggal ika hanya wacana.
***
Mereka, tentu hanya mereka.
Aku suci, aku kesayangan tuhan.
Malaikat selalu bersamaku, menemaniku.
Tapi aku bertaring...
Posting Komentar