"Jika kau menghamba pada ketakutan, kita hanya akan memperpanjang barisan perbudakan"
Keberanian dalam bersuara memang sebuah hal tak selalu orang punyai. Keberanian juga yang kadang mengantarkan orang untuk saling mengenal. Begitulah cara Wiji Thukul untuk tetap dikenal sebagai bagian kelam penegakan hukum dalam sejarah negeri ini. Dengan bersuara, tepatnya rangkaian kata-kata Wiji Thukul memberi mimpi buruk pada penguasa negeri ini. Puisi, senjata yang mengantarkan Thukul sebagai orang yang "diamankan" oleh penguasa. Puisi Wiji Thukul adalah gambaran kehidupan pekerja, sebuah "Nyanyian Akar Rumput".
Nyanyian Akar Rumput
jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!
Juli 1988
Seorang penyair yang menolak dikatakan sebagai penyair, lahir di Solo 26 Agustus 1963 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, tinggal di sebuah perkampungan miskin di Solo yang mayoritas orangnya bekerja sebagai buruh, tukang becak, kuli rendahan, dan orang-orang yang bekerja serabutan, yang tidak pernah diperhitungkan oleh para penguasa. Bapaknya sendiri bekerja sebagai pengemudi becak. Wiji Thukul sendiri adalah seorang yang bekerja serabutan. Pernah bekerja sebagai loper Koran, calo karcis bioskop dan menjadi tukang pelitur di perusahaan mebel. Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo Lantas, darimana nama Wiji Thukul bermula disematkan? Oleh seorang pemain teater, Thukul diperkenalkan kepada Cempe Lawu Warta, anggota Bengkel Teater yang diasuh penyair W.S. Rendra. Thukul kemudian masuk menjadi anggota Teater Jagat. Di situlah Lawu kemudian mentabalkan nama Thukul. Nama asli Thukul sesungguhnya adalah Wiji Widodo. Namun, Lawu menghilangkan nama Widodo dan diganti dengan Thukul. Wiji Thukul artinya Biji Tumbuh. Setelah bernama Wiji Thukul, Thukul sempat menambahkan nama Wijaya di belakangnya menjadi Wiji Thukul Wijaya. Tapi kemudian ia membuangnya karena sering diledek teman-temannya sebagai nama borjuis.
Peringatan
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
Solo, 1986
Menyebutkan Wiji Thukul maka akan teringat satu kalimat penuh makna yang selalu hadir dalam segala bentuk protes terhadap ketidakadilan; "hanya ada satu kata: LAWAN!". Kalimat pamungkas dalam puisi yang berjudul "Peringatan". Hingga puisi ini menjadi menu wajib para orator demonstran disetiap kesempatannya. Seoalah telah menjadi mimpi buruk bagi presiden, kata-kata Thukul adalah peluru. Peluru yang menghujam ketidakadilan. Wiji Thukul adalah sejarah yang belum usai. Hanya ingatan yang membuatnya tetap tumbuh dan berbunga.
Bunga dan Tembok
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun–tirani harus tumbang!
Solo, 1987
Seperti puisi yang berjudul "Bunga dan Tembok", Wiji Thukul adalah benih yang bersemayam di antara temboknya. Wiji Thukul telah mempersembahkan sebuah jalan terang, namun masih penuh dengan "Catatan".
Catatan
udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga
musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami
uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu
gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu
Solo, 87-88
Sekali lagi, Wiji Thukul mewariskan keberanian untuk mengingat. Mengingat untuk tidak diam. Telah kita ingat "Sajak Suara" buat menjadi peluru, peluru liar yang memburu seperti kutukan. Ketika kita dibungkam.
Sajak Suara
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
Aku dan Thukul adalah satu ibu.
Tujuan Kita Satu Ibu
kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."
kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan
kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997
Sebagai penutup, Wiji Thukul pernah berpesan "Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa"
Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa
ku bukan artis pembuat berita
Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa
Puisiku bukan puisi
Tapi kata-kata gelap
Yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan
Ia tak mati-mati, meski bola mataku diganti
Ia tak mati-mati, meski bercerai dengan rumah
Ditusuk-tusuk sepi, ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
Kata-kata itu selalu menagih
Padaku ia selalu berkata, kau masih hidup
Aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa
18 Juni 1997
Posting Komentar