"Hujan adalah sebuah proses. Dimana basah dapat merubah kerontang pohon yang meranggas menjadi hijau dan teduh. Dan hujan akan selalu datang pada tanah, sekalipun dalam kemarau yang terlalu panjang."

Suatu hari ketika jingga senja bersembunyi dibalik pekat gelap awan petang, menampakkan langit berwarna merah tepat pada pertengahan musim kemarau. Di sebuah sudut taman kota tampak sepasang muda-mudi berbincang. Menyandarkan pantat pada sebuah bangku taman dari beton tanpa sandaran untuk badan. Berlatarkan langit sore Jogja yang kian meredup. Si gadis mulai bertanya.

"Apa yang kamu tahu tentang hujan?"

Si lelaki pun terdiam sejenak dengan sedikit senyuman, lelaki itu pun menjawab.

"Sebatas kepulangan air kepada tanah."

Gadis berwajah sedikit tirus dan berkacamata agak tebal itu pun terlihat agak kecewa. Dengan menatap agak tajam kepada si lelaki, gadis itu bertanya lagi.

"Apakah hanya itu?"

Lelaki yang berawakan jangkung dengan rambut yang terlihat sedikit tak terawat yang dibiarkan memanjang itu kemudian mengambil sesuatu dari saku hoodie berwarna hitam polos tanpa corak. Satu bungkus rokok putih dengan pasangannya korek hijau diambil dari saku hoodie itu, dengan tenang satu batang rokok ditepatkan diantara bibir dan menyalakan korek apinya. Dihisapnya asap rokok dengan penuh pelan-pelan kemudian mengeluarkannya. Setelah hisapan kedua, lelaki itu menjawab.

"Tentu tidak (tersenyum tipis), itu hanyalah penyederhanaanku untuk hujan."

Dihisapnya rokok itu lagi dan kemudian meletakkan bungkus dan koreknya di bangku taman tempat duduk mereka. Sementara si gadis terlihat semakin penasaran. Dengan kacamata agak tebal, terlihat gadis ini memiliki kemungkinan gemar membaca dan tampak tak puas dengan jawaban si lelaki, gadis itu meminta penjelasan.

"Maksudmu? Apa hujan begitu rumit untukmu?"

Sambil memandangi lelaki itu, menerka apa yang akan ia ucapkan. Lampu taman pun satu per satu mulai menyala menerangi petang yang berangsur-angsur kedatangan orang-orang untuk sekedar menepi atau mencari ruang untuk menikmati malam yang akan datang.

Saat yang sama si lelaki masih menikmati asap rokoknya, dan agak lama terdiam. Entah berpikir atau menyusun kata-kata yang ingin diucapkan. Si Gadis pun masih menunggu dan tak lagi memandang wajah si lelaki yang tak begitu rupawan seperti artis ftv tapi tak juga buruk rupa. Biasa saja, mungkin begitu gambaran jelasnya. Dengan kumis tipis yang mulai menebal dan sedikit brewok, lelaki ini tampak acuh dengan urusan penampilannya. Si gadis menggenggam kedua tangannya dan menoleh ke arah yang lain, mengalihkan pandangannya lebih luas. Melihat taman yang kian semarak dengan berbagai kegiatan kaum muda yang mulai menggeliat. Si lelaki pun masih menghisap batang rokok putih hingga batas kenikmatannya habis, dipadamkannya bara rokok di samping sepatu sneaker merk converse berwarna hitam bercorak putih yang tampak sudah lama dipakainya. Diambil bungkus rokok lain dari saku celananya, yang kemudian digunakan untuk menyimpan putung rokok yang tersisa. Dimasuknya kembali bungkus rokok yang berisi putung rokok kedalam saku celana jeans yang juga berwarna hitam. Bersamaan dengan itu, lelaki pun menjawab pertanyaan si gadis yang masih memalingkan wajah dari si lelaki.

"Tidak juga..."

Kemudian si gadis menatap kembali wajah si lelaki.

"Lalu?"

Lelaki itu pun sedikit melihat ke atas, mencoba meringankan mulutnya untuk berkata.

"Menurutku, anggaplah hujan itu kenyataan saja. Andai kau jadi petani kau akan bersyukur karna doa-doa panjang mereka telah jadi nyata. Atau misal kau menjadi sinar matahari, kau akan menjadi lebih terasa hangat bukan lagi terik dan akan lebih berwarna saat hujan berhenti memeluk bumi."

Gadis itu pun sedikit tersenyum dan tertawa.

"hahaha...walau aku tak begitu paham. Tapi itu benar juga, kita dapat melihat pelangi setelah hujan...ya"

Untuk kemudian ikut menatap ke atas, mencoba melihat apa yang ada dipandangan si lelaki.

"Kita juga bisa melihat sinar mentari terbit di balik pekat-pekat awan mendung, bersinar lebih terang dari sebelum hujan datang."

Si gadis meneruskan perkataannya. Si lelaki pun beralih pandang untuk menatap wajah gadis berkacamata dengan sedikit rambut menutupi sebagian sisi terluar dari kacamata ber-frame hitam sedikit transparan itu.

"Mengapa kau begitu tertarik pada hujan? Salahkan hujan padamu?"

Lelaki itu bertanya dan gadis itu terdiam. Gadis itu tampak sedikit melamun dan belum ada kata yang keluar dari kedua bibir sedikit tipis yang tertutup rapat. Si lelaki itu menunggu dan kemudian mengambil satu batang rokok lagi dan menyalakan api untuk membakar ujung batang berisi tembakau itu. Menikmati sebuah hisapan dan menghempaskan ke udara bebas, si gadis pun mendekatkan tas pinggang berwarna coklat muda yang lama ia diamkan tepat disamping tempat ia duduk. Membuka tas yang sebenarnya tanpa corak, tetapi dirubah dengan ditambahkan berbagai hal semacam tulisan yang tampak menyerupai gambar tidak jelas. Diambilnya sebuah botol air mineral untuk kemudian ia minum dan dibagi bersama si lelaki. Dalam diam mereka berbagi pandang, seolah berbicara dengan cara memusatkan  tatapan kepada masing-masing bola mata mereka. Sejenak mereka tak bergerak dan menikmati peleburan dua buah isi kepala dalam satu perlintasan antar pandang, hingga si lelaki menggenggam untuk kemudian meminum air mineral dengan masih menyelipkan batang rokok diantara telunjuk dan jari tengah tangan kirinya.

"Maaf tadi kamu bertanya apa ya...hehe"

Gadis itu menanyakan kembali apa yang ditanyakan si lelaki sambil tertawa sedikit membodohi diri sendiri. Si lelaki pun hanya bisa ikut tertawa dan kemudian memberikan air mineral pada si gadis. Si gadis pun mengambil air mineral yang diulurkan si lelaki, lalu meminumnya. Si lelaki terus memandangi setiap tegukan air yang berpindah dari isi botol meluncur hilang dalam mulut kecil si gadis. Seperti memanjatkan doa lelaki itu menikmati apa yang ada dipandangannya. Setelah menutup botol air mineral dan mengusap sisa air yang berada di atas bibir si gadis pun berujar.

"Salahnya hujan ya...em, dulu sih ketika hujan datang membuatku lemah. Kadang setiap butir hujan yang turun seperti kumpulan mata pisau yang ditempa semua sesak dan gelap mendung. Jadi hujan itu hanya berujung basah sama seperti rindu yang tahu harus ditahan oleh tanah."

Kemudian si gadis itu merunduk menatap sepatu boot berwarna ungu gelap yang ia pakai. Tak lama si lelaki membenamkan bara rokok yang masih terselip diantara jari tangannya dengan menginjak sisa tembakau yang masih menyala. Tak lagi dipungutnya putung rokok yang ia injak dan dengan lirih berucap.

"Jika dulu hujan begitu menakutimu, maka syukurilah...kini kau menjadi seseorang yang memuja hujan."

Lelaki itu kemudian memasukan kedua tangannya kedalam saku hoodie. Sementa si gadis masih merunduk dan terdiam.

"Tanah memang harus menahan basah  dari air hujan. Bahkan tanah harus menyimpan basah, semakin hari semakin dalam. Membagi sedikit banyak kepada pohon dan kepada sungai ia titipkan basah untuk luas laut yang menunggu. Jadi di tanah yang kita pijak, walau dengan nama berbeda. Kita masih bisa menyimpan basah dibagian terdalam dan membiarkan sisanya mengalir ke lautan lepas."

Lelaki menambahkan dan si gadis pun mengangkat wajahnya, mengambil kembali botol air mineral dan meminum hingga habis. Si lelaki pun mengambil putung rokok yang diinjaknya, untuk dimasukan bersama putung rokok lainnya ke dalam bungkus rokok yang tersimpan di saku celananya.

"Jadi tanah itu rumit ya...hehe"

Si gadis menatap lelaki sambil tertawa.

"Ya, mau gimana lagi. Namanya juga tanah, coba namanya diganti coklat pasti gak rumit hahaha"

Si lelaki juga membalas tawa. Dan setelah mereka tertawa agak lama. Mereka berbincang tentang keseharian masing selama sepuluh bulan terakhir saat mereka tak bisa bertemu. Si gadis bercerita tentang bagaimana sibuknya menjadi mahasiswa sastra disalah satu perguruan tinggi terkenal di Jogja dan harus berurusan dengan tugas skripsi. Sementara si lelaki kadang bercerita tentang bos dan rekan kerjanya di sebuah portal berita online ibukota. Waktu berlalu hingga saat jarum jam membentuk sudut siku pukul sembilan malam. Meninggalkan bangku taman dan pulang.

Sedikit percakapan tentang hujan mengingatkan untuk sebuah kepergian untuk pulang. Berjumpa dengan tanah dan menjadi basah. Meski lelah, tanah selalu menengadah berharap hujan datang dan mengusir keluh kesah menjadi berkah.