Menikmati malam panjang dengan sedikit mencari teman, bukanlah sebuah kejahatan. Terlebih untuk mengisi kekosongan waktu dan rasa lelah. Di pinggir jalan dan lalu lalang kendaraan. Riuhnya memberi sedikit kerinduan. Entah itu suasana jalanan atau hidangan yang biasa menemani. Untuk diceritakan atau sekedar dikenang dalam ingatan.
Biasanya pada saat lelah atau tak ada kesibukan, menyempatkan diri untuk mencari udara segar dan membaur dengan sedikit teman adalah sebuah jalan keluar dari rasa penat. Kebiasaan lain adalah menyempatkan diri terjebak dalam barisan trotoar jalan atau di depan pertokoan dengan teman cerita atau hanya teman pemuas selera. Teman pemuas selera disini bisa diartikan dengan banyak hal karna di jalanan segala sesuatu itu benar ada dan bukan lagi sebuah rahasia. Tapi bukan teman pemuas selera jika tak berkaitan dengan perut, entah itu sekitar perut atau mengisi perut itu sendiri. Untuk bagian sekitar perut mungkin lain kali bisa diceritakan tapi saat ini mungkin lebih baik bercerita tentang pengisian perut. Untuk satu ini jalanan memberi berbagai varian untuk ditawarkan dan kita bebas menentukan pilihan. Dari jenis hidangan berkuah atau kering, dari yang makanan kebarat-baratan hingga makanan lokal yang cenderung tradisional, dari cara penyajian yang formal atau hanya sekedar duduk diatas bangku atau tikar tepat di samping jalanan yang riang dengan lalu lalang pemakai jalan. Dan yang selalu menjadi hidangan favorit akhir-akhir ini adalah pecel lele. Memang tak setenar pizza, burger, atau jenis-jenis makanan yang saat ini banyak digemari. Tapi dari jenis makanan ini, dapat memberi sedikit dialektika tentang proses hidup. Dari si binatang ikan lele yang luar biasa atau sambal yang bisa membuat orang seperti sedang murka.
Alasan pertama adalah kekaguman tentang seekor ikan yang sering disebut dengan lele. Lele atau dengan nama latin disebut Clarias dan dalam bahasa Inggris memiliki nama Catfish. Ikan yang hidup di perairan tawar ini terkenal kuat dan memiliki permukaan kulit yang licin. Selain itu yang menarik dari seekor lele adalah memiliki kumis dan hidup aktif mencari makan pada malam hari atau bisa disebut dengan Nocturnal. Entah karena kesamaan memilki kumis dan terbiasa hidup menghamba pada malam hari, tapi lele memiliki banyak hal untuk dikagumi. Kemampuan lele untuk bertahan hidup misalnya. Lele mungkin sedikit dari ikan yang mampu bertahan hidup dengan berbagai keadaan air yang tak layak dari sungai yang jernih, waduk atau danau, hingga di kubangan lumpur. Untuk bertahan hidup juga lele tak pernah memilah dan memilih jenis makan yang akan dimakannya, karena lele termasuk jenis hewan omnivora atau pemakan jenis segala sama seperti manusia. Tak hanya itu saja, lele setelah diolah dan dikonsumsi memiliki berbagai nutrisi gizi yang dianjurkan kementrian pemberdayaan pangan. Seperti kandungan vitamin D, sedikit omega 3 juga lemak omega 3. Jadi lele itu seperti sebuah gambaran usaha atau upaya untuk bertahan hidup, tak peduli dengan keadaan dan lingkungan mampu memberi hal yang berguna. Walau bentuknya sedikit aneh dan permukaan kulitnya yang licin seperti berlendir dan cenderung menjijikan, tapi siapa peduli.
Pecel lele, selain lele juga harus ada pendampingnya yaitu sambal. Sambal di nusantara terbagi dalam berbagai jenis dan macam. Setiap daerah tentu memiliki satu jenis yang bisa menjadi idola. Tapi bisa juga tergantung dengan sajian yang akan dimakan. Nah, untuk lele atau pecel lele ada sedikit bocoran tentang sambal yang dipakai. Tapi tak ingin berlama-lama dengan bagaimana atau apa bahannya, yang jelas sambal itu seperti sebuah cerita. Dari latar belakang bahwa sambal adalah salah satu bagian dari makanan tradisional atau bisa juga disebut sebagai makanan wajib bagi sebagian masyarakat nusantara. Sambal kadang tak mengenal tatanan kelas masyarakat dari masyarakat kelas atas, kelas menengah hingga yang paling bawah. Dari hal ini maka bisa dikatakan bahwa sambal adalah bagian dari kehidupan. Ketika menikmati sambal biasanya akan menimbulkan rasa puas -bisa dengan berkeringat- seperti sebuah orgasme dari sebuah hubungan tubuh. Selain tak hanya menyimpan rasa pedas biasanya sambal juga memiliki manfaat untuk tubuh, misal dari bahan pokok sambal sendiri yang biasanya cabai memiliki sebuah kandungan yang mampu mencegah penyakit jantung. Tapi yang jelas sambal memiliki candu bagi para penikmat atau pecinta masakan yang pedas. Entah karena pedasnya itu memberi orgasme bagi lidah, dimana lidah kadang menjadi bagian dari mulut. Mulut yang terbiasa untuk bercerita dan berbicara.
Selain lele dan sambal, pecel lele juga ditemani dengan nasi. Nasi tentu makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat nusantara. Nasi bisa dikatakan sumber dari rasa kenyang, musuh dari rasa lapar. Rasa yang dimana kadang dapat merusak segala hal dan bisa dikatakan sumber dari kenyataan. Karena sebagian tindakan kriminal terjadi karena faktor kemiskinan dan untuk mencukupi isi perut orang rela berbuat hal yang melanggar aturan atau hukum. Nasi adalah sedikit pereda dari pedas sambal. Tapi yang paling dekat dengan sambal adalah lalapan. Lalapan selain pereda rasa pedas dari sambal juga berguna untuk menurunkan kadar kolesterol yang terkandung dari lele yang digoreng dengan minyak.
Maka menikmati pecel lele adalah sebuah kesatuan menikmati kehidupan. Dari lele yang tak lelah berusaha dan mengajarkan bertahan hidup. Sambal yang memberi rasa kepuasan namun hanya untuk sementara dan lebih banyak menyimpan cerita atau rasa pengulangan. Nasi sebagai pokok dari simbol kehidupan memberi rasa cukup dan kesederhanaan seperti warna putihnya. Dan untuk lalapan, bagian penuntas dari semua cerita ini yang mengajarkan keikhlasan dalam sebuah cerita.
"Mas, sambalnya kurang...lalapannya juga ditambahi ya!"
Posting Komentar