Manusia bisa saja menjadi harapan, tapi apakah semua mau hanya menjadi harapan? Bila pun enggan menjadi harapan mengapa?

Pada 7 Mei yang ke dua puluh tiga ini, ingin sekali berterima kasih untuk semua hal yang silih berganti menemani. Entah itu mengenalkan suka ataupun juga memberikan duka. Seperti senja kadang datang dengan keemasan atau sering juga berselimut mendung yang berbarengan menjemput petang. Hari ini tetap seperti biasa, rutinitas biasa, bertemu orang yang biasa. Tak ada yang istimewa, tapi mengeluhkan ketidakstimewaan bukanlah hal biasa. Mungkin karena lebih terbiasa menikmati segala yang ada entah itu ada yang sederhana, ada yang cukup istimewa, ada yang istimewa atau bahkan yang tak ada sekalipun. Berbicara ada maka akan memunculkan sesuatu yang nanti disebut keberadaan.

Keberadaan tak lebih dari waktu pada tempat yang terjalani. Singkatnya keberadaan adalah hal yang sama maknanya dengan kehadiran. Tak bisa dipungkiri adanya suka atau duka sering berhubungan dengan keberadaan. Keberadaan yang sering terluliskan bersama seseorang atau sesuatu yang teringinkan. Keberadaan seseorang atau sesuatu yang teringinkan dapat berarti suka apabila itu ada, tapi bisa juga dapat berarti duka apabila tiada. Ada ataupun tiada adalah kenyataan yang coba ditawarkan, berdasar pada penerimaan tawaran akan tetap hanya tawaran. Diterima atau tidak hanya keberadaan yang menentukan. Misalkan saja seseorang yang teringinkan itu terbiasa ada didekat kita, lalu sesuatu yang tak teringinkan datang. Seseorang itu pergi atau tiada lagi kehadirannya bersama kita. Ini tentu jadi satu kenyataan yang coba ditawarkan untuk mengadakan atau meniadakan keberadaannya. Mengadakannya berarti kita memaksakan sesuatu di luar kemampuan kita, sementara meniadakannya berarti kita menolak untuk berusaha membuatnya ada.

Dalam ketiadaan atau kepergian ini ada duka yang coba kenyataan tawarkan. Tapi di sisi lain adanya duka dapat berarti suka, oleh kepergian dan ketiadaan yang teringinkan. Ini bisa disebut juga dengan kebangkitan yang berhubungan dekat dengan harapan. Kebangkitan bisa dikatakan adalah sebuah usaha melihat ketiadaan menjadi keberadaan yang baru. Berangkat dari hal yang sudah tiada untuk menjadikannya ada. Bukan ada yang sama, tetapi ada yang berbeda dari semula. Belajar dari ketiadaan seseorang akan menjadikan keberadaan yang coba dibangkitkan ini lebih berarti. Lebih tepatnya ketiadaan memberi sedikit pencerahan untuk tidak mudah terlena dengan apa yang ada.