Apa yang anda lihat dari sebuah pelacuran? Nista, hina, binal, atau kenikmatan.
Pelacuran bukanlah kegagalan masyarakat, tetapi adalah kegagalan untuk memperoleh keadilan. Melihat pelacuran sekedar dari nilai moral akan membuat orang buta akan kenyataan, kenyataan bahwa tak semua orang itu suci. Membicarakan pelacuran atas dasar agama dapat membuat orang tuli, tuli untuk mendengar cerita timpang dan tak adil. Pelacuran terjadi hanya karena dua hal, pertama tentu untuk bertahan hidup dan yang satunya lagi adalah mengkhianati hidup.
Hal pertama terjadi karena faktor yang didasari oleh tuntutan ekonomi. Tidak dipungkiri hari ini mencukupi kebutuhan sehari-hari adalah kesulitan yang nyata bagi masyarakat dengan segala keterbatasan. Entah itu pendidikan atau lapangan kerja. Tanpa bermaksud mendeskritkan wanita, karena sebagian besar pelaku pelacuran adalah wanita. Sesungguhnya ini berawal dari kebudayaan patrikal, dimana laki-laki lebih memiliki kekuasaan dari pada wanita. Dan wanita selalu dianggap tak lebih dari pemuas hasrat pria, hal ini memunculkan arogansi bahwa pria bisa memiliki kendali atas wanita. Didorong oleh pergeseran waktu dan kebutuhan, banyak perempuan sengaja atau tidak dijerumuskan untuk memilih pekerjaan pelacuran ini. Untuk sekedar mencukupi segala kekurangan dari pemuasan nafsu laki-laki.
Dan yang kedua dimana pelacuran adalah mengkhianati hidup. Sedikit berbeda dengan yang pertama, tetapi juga memiliki kesamaan karena desakan ekonomi. Bila yang pertama adalah karena keterbatasan, yang kedua ini adalah karena merasakan sesuatu yang lebih mudah untuk didapat. Dalam masyarakat modern hal ini bisa ditemukan ditempat-tempat hiburan malam kelas atas. Jika yang pertama hanya berada pinggiran jalan atau gang-gang sempit kota, yang kedua ini lebih mewah dan sedikit terjamin keamanannya.
Dari sini sudah dapat dilihat kebenarannya bahwa, mereka yang melacurkan diri di gang-gang sempit atau warung remang-remang pinggir jalan hanyalah bagian paling lemah dari sesuatu yang disebut pelacuran. Pelacuran yang sebebarnya adalah disatu tempat yang mewah dan tak tersentuh. Dimana sedikit banyak penikmatnya adalah orang-orang mampu atau para pemuka dan penguasa.
Bukan bermaksud untuk membela sistem pelacuran satu tempat tetapi memberi sedikit gambaran berbeda yang sebenarnya. Menutup lokalisasi pelacuran kelas rendah belumlah menjadi jalan keluar selama pembinaan dan lapangan kerja yang berbeda diberikan. Eksodus ke lokalisasi lain atau membuka lokalisasi baru mungkin saja terjadi.
Pendapat saya adalah pelacuran akan terus terjadi selama manusia belum siap dengan kenyataan yang kadang tak adil. Melacurkan diri, entah raga atau pikiran adalah buah dari ketidakmampuan diri dalam menerima sebuah tuntutan. Pelacuran itu sesungguhnya dimulai dari negara, bukan gang sempit yang berisi kaum hawa haus akan birahi pria bejat tanpa norma. Dimana negara memiliki kewajiban untuk menyejahterakan rakyatnya.
Posting Komentar