"Jangan mati dalam hidup, hiduplah dalam kehidupan, dan teruslah hidup dalam kematian"
Hidup adalah bagaimana kita mengisi waktu untuk menjadi atau berbuat sesuatu. Sebagai manusia yang tentu hidup dalam keberagaman dunia. Dari sekedar warna kulit, bahasa, bentuk tubuh, keyakinan dan juga gender. Tumbuh dan mengenal segala perbedaan itu untuk kemudian menyederhanakannya sebagai manusia yang sama. Sama dalam bernafas di udara, menikmati terik matahari yang satu, dan tentu hidup di bumi yang sama ditempati. Sikap saling menghargai dan menghormati sudah harusnya menjadi dasar setiap orang yang hidup berdampingan satu dengan lainnya.
Termasuk bagi saya yang lahir dan tinggal di Indonesia. Negeri yang memiliki semboyan "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti walau berbeda-beda tetap satu jua, ini bermakna bahwa dalam keaneragaman tetap ada satu hal yang menjadikan kesatuan bermasyarakat dan bernegara. Negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.466 pulau di dalamnya dan lebih dari 6000 pulaunya tak berpenghuni. Dengan bahasa daerah 721. Dari agama ada enam agama yang diakui Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Keberagaman etnis juga terdapat di Indonesia. Dengan berbagai keragaman budaya di Indonesia, dulu sewaktu masih belajar di sekolah ada satu mata pelajaran yang khusus mengajarkan hidup dalam keaneragaman negeri ini. Berdasar pada ideologi bangsa yaitu Pancasila. Ideologi kebangsaan yang memiliki banyak kandungan mulia, bagi siapa yang mengamalkannya. Seperti yang dituliskan pada sila kedua yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan beradab", dimana pada sila ini setiap manusia itu harus saling menghormati dan menghargai orang lain tanpa kecuali sebagai pertanggungjawaban terhadap moral diri sendiri.
Kesadaran untuk meresapi setiap butir Pancasila, khusus pada sila kedua ini semakin menurun. Entah karena mata pelajaran sekolah tak lagi mencantumkan pendidikan berdasar Pancasila sebagai bagian penting dari materi pembelajaran atau karna kemajuan jaman yang membuat pola pikir realitas adalah tergantung dari besaran nilai yang dihasilkan. Keengganan untuk kembali mengingat nilai-nilai luhur para pendiri bangsa yang coba tawarkan, mendorong sikap individualistis serta acuh tak acuh terhadap segala hal disekitarnya. Terlebih untuk sebagian masyarakat perkotaan yang mampu, atau lebih sering disebut dengan kelas menengah dan kelas atas. Empati terhadap sekitar sering terabaikan dengan sikap egois. Belum lama ini media sosial cukup dibuat heboh dengan sebuah postingan yang menceritakan keadaan di sebuah roda transportasi umum, terdapat seorang ibu hamil yang meminta tempat duduk kepada seorang perempuan muda. Tapi kemudian dibiarkan tanpa memberikan tempat duduknya, bahkan menceritakan kejadian seperti itu di salah satu media sosial, dengan sedikit rasa kebencian. Mungkin bukan sepenuhnya benci, tetapi amarah yang berlebihan disertai juga ada kebanggaan di dalamnya. Rasanya tak pantas untuk sesama manusia, terlebih untuk sesama perempuan. Yang suatu saat akan merasakan bagaimana rasanya hamil. Singkat saya, apa sulitnya merelakan tempat duduk, terlebih membaginya kepada yang lebih membutuhkan.
Bukan bermaksud menilai perilaku tersebut sebagai kemunduran sebagai manusia. Tetapi jika menyebarkan ketidakpedulian itu dengan rasa bangga. Rasanya cukup prihatin melihat kabar seperti itu. Tak seperti yang tertanam pada nilai dasar dari ideologi bangsa ini yang mengutamakan sikap toleransi sesama, perilaku-perilaku yang memperlihatkan sikap egois yang berlebihan. Dasar pola pandangan yang ingin digambarkan para pendahulu tentu jelas ingin mendorong para generasi penerusnya untuk terus menjaga keseimbangan masyarakat dengan mementingkan asas kebersamaan. Mengingat sejatinya manusia yang hidup itu adalah makhluk sosial. Makhluk yang hidup juga bergantung pada makhluk yang lainnya. Dengan bersosialisasi akan membuat seseorang untuk lebih mengenali dan mengerti keadaan sekitarnya. Lebih jauh akan memberi kesadaran untuk tidak terpaku pada diri sendiri.
Kesadaran untuk tidak hanya mementingkan diri sediri ini, akan mendorong setiap orang untuk terikat lebih erat dalam berhubungan dengan orang lain di sebuah tatanan masyarakat. Terlebih kesadaran ini akan memberi sedikit banyak perubahan yang lebih baik untuk kepentingan bersama. Sesuatu yang lebih baik karena setiap orang akan memiliki andil yang sama dalam tatanan masyarakat tanpa memedulikan latar belakang seseorang. Hari ini sering kita lihat disekitar bahwa banyak diantara kita lebih menilai orang yang sama -entah itu warna kulit, agama, atau asal-usul kedaerahan- tanpa melihat apa yang sebenarnya orang lain itu akan lakukan. Hal seperti ini seperti penjara pikiran yang dibuat sendiri oleh sang penilai. Kesadaran diharapkan sebagai kunci untuk melepaskan pemikiran yang terlanjur terpenjara dalam sikap menilai berdasar latar belakang itu. Jika melihat kebelakang untuk mengingat, bagaimana dulu reformasi terjadi. Bermula dari kesadaran dari pemikir-pemikir muda tentang kondisi negerinya yang sudah terjebak terlalu dalam dalam kapitalisme. Hutang luar negeri yang menggunung ditambah korupsi dan kolusi menjangkit diseluruh bidang pemerintahan. Mereka bergerak menuntut perubahan dan untuk sebuah perubahan yang lebih baik akan selalu ada dukungan yang menyertai. Walau dibalik dukungan gerakan reformasi tersebut tersimpan berbagai kepentingan yang mengikuti -elit politik yang menumpang- tapi dengan kesadaran yang besar dari mahasiswa dan masyarakat untuk sebuah perubahan mendorong negeri ini terlepas dari penjara berpendapat.
Kini lebih dari dua windu setelah reformasi terjadi, negeri ini terjebak kembali dengan sesuatu yang hampir sama dengan penjara pikiran era orba -berpendapat atau mengkritik segala tindakan pemerintah dituduh sebagai tindakan subversif- yang kali ini bukan berasal dari penguasa seperti sebelum reformasi. Tapi jauh lebih menyedihkan sebab penjara ini berdoktrin dari agama atau latar belakang keturunan. Dengan mengedepankan isu agama atau latar belakang keturunan, bermodal jumlah yang lebih dominan sebagian orang terpenjara dalam pikiran yang sempit atau bisa dikatakan fasis. Kecenderungan bersembunyi terhadap jumlah yang lebih banyak, kerap mereka memberi penilaian yang melebihi kemampuan dari apa yang mereka dapat nilai. Seperti menggolongkan orang lain sebagai seorang kafir, bukankah kafir atau tidaknya itu hanyalah urusan individu dengan tuhan dan tuhan sebagai penentu kekafiran tersebut. Doktrin yang berlebihan tentang kemuliaan agama dengan membenarkan kekafiran orang lain dapat mereka lakukan. Seolah ingin memberi penyeragaman pada semua hal yang terkandung dalam kebebaran agamanya sendiri dan menganggap agama lain adalah salah. Belum lagi dengan penulaian berdasar latar belakang keturunan atau ras, mengedepankan kepribumian dan keunggulan berpikir lantas sering menjatuhkan penilaian bahwa yang tak sama berarti tidak pantas berbuat sesuatu yang lebih untuk kepentingan orang banyak. Semisal menjadi pemimpin, di salah satu kota atau bahkan hampir semua kota bila sang calon pemimpin berasal dari keyakinan minoritas dan latar belakang keturunannya maka akan banyak kelompok yang menjatuhkan berdasar isu seperti itu. Tanpa terlebih dahulu melihat kemampuan yang dimilikinya. Mungkin mereka memiliki kesadaran tapi kesadaran yang mereka miliki tak lebih kesadaran yang terbatas dalam ruang yang telah dijejalkan doktrin sempit kebenaran mutlak yang mereka terima.
Tak seperti yang dikatakan Eduard Douwes Dekker atau sering lebih dikenal dengan nama Multatuli dalam Max Havelar bahwa "Kewajiban manusia adalah menjadi manusia". Sebuah pejaran yang ingin mengatakan dan mengingatkan bahwa menjadi manusia haruslah memanusiakan manusia yang lain. Menghargai dan berbuat sesuatu untuk orang lain. Bukan hanya kepada sesama manusia tapi lebih luas, kepada alam dan isi semesta. Untuk itu kesadaran haruslah luas, bukan hanya selingkup pandangan yang terlihat. Lebih luas dan lebih jauh dari pandangan. Karena kesadaran adalah buah pikiran yang adil untuk bertransformasi lebih dari ruang dan waktu yang akan terus hidup dalam setiap jiwa. Selama kesadaran diamalkan untuk sesama bukan karena sama agama, warna kulit, bahasa, atau apapun itu yang menyeragamkan. Tetapi tak lebih untuk menjadi manusia. Manusia yang hidup dan pasti akan mati. Karena setelah kematian, manusia hanya meninggalkan nama dan perbuatan untuk diingat. Beruntunglah yang mampu meninggalkan semangat perjuangan bagi yang masih hidup. Dalam raga yang mati pun jiwanya masih hidup dan mungkin berlipat ganda.
menyentuh banget gan ceritanya..terhanyut gua jadinya..
BalasHapussuwun bung :)
Hapus