As soon as your born they make you feel small,
By giving you no time instead of it all,
Till the pain is so big you feel nothing at all,
A working class hero is something to be,
A working class hero is something to be…
Bait di atas merupakan sepenggal lirik yang diambil dari lagu mendiang John Lennon di album John Lennon/Plastic Ono Band. Dengan mengambil ide mengenai perpecahan kelas di tahun 1940 sampai 1950an, lagu berjudul “Working Class Hero” menceritakan tentang seseorang yang lahir dan tumbuh di kelas pekerja. Sederet cerita pilu yang dituangkan dalam baris kata-kata yang begitu menohok. “Working Class Hero” adalah sebuah penghargaan bagi siapa saja yang ikut tergerak untuk memperjuangkan hak–hak kaum buruh sehingga pantas disebut pahlawan. Ia berulang kali mengakhiri baitnya dengan sebuah kalimat yang bagi sebagian orang boleh saja menggangu, bahwa kita semua adalah kelas pekerja – suka atau tidak suka. Melalui lirik tersebut Lennon menghentak kesadaran kita yang selalu mengganggap bahwa segala gelar akademis mentereng dan IQ pencakar langit dapat membuat kita terhindar dari label kelas “pekerja”. Sebuah penyangkalan yang dilakukan (dan ditanamkan) sejak dini atas apa yang dikatakan Hegel sebagai proses dialektika diri melalui “kerja”. Namun, dialektika tersebut terhenti karena logika sistem terlalu egois untuk memberi tempat bagi kelas yang lain.
May Day atau Hari Buruh lahir sebagai perlawanan terhadap kekacauan kondisi kerja akibat minimnya upah dan displinnya jam kerja karena berkembangnya kapitalisme industri di wilayah Eropa Barat dan Amerika Serikat pada awal abad ke-19. Perjuangan kaum bawah melawan orang-orang merdeka merupakan sejarah yang tak terbantahkan. Harapan untuk diakui dan disamakan atas kenyataan pahit dipandang sebelah mata. Si kuat melawan yang lemah, inilah seleksi alam di mana tak pernah satu hari pun terlewat tanpa perlawanan. Dari dulu sampai sekarang hal semacam ini terus terjadi, bagaikan lubang besar yang terus menganga antara si kaya dan si miskin, tuan tanah dan pekerja, serta kaum buruh dan pemilik modal. Buruh, berada pada rantai paling bawah dari proporsi pemberitaan media, dan ketika diangkat, pesan yang ingin disampaikan hanya mengambang dipermukaan – sisanya adalah upaya untuk segera menyudahi sehingga dapat kembali menayangkan komedi dengan rating tinggi. Dari sinilah rasanya kita bisa memaklumi jika buruh dan segala persoalannya tidak pernah masuk kedalam kancah perhatian, sehingga dalam sudut pandang (konstruksi sistem) masyarakat, buruh merupakan objek diluar diri – seperti pohon, gunung atau pemandangan lainnya, yang bisa diganti jika sudah bosan. Karena memang tidak pernah menjadi perhatian, maka kita atau setidaknya saya, sebagai pengkonsumsi media dan teori kacangan menjadi tidak ngeh ketika terjadi sebuah pemelintiran makna atas konsep buruh dan kelas pekerja: kelas pekerja (working class) saat ini dibekukan dalam definisi sempit untuk menggambarkan buruh (labor/blue-collar worker) sehingga pekerja jenis lainnya – yang beroperasi di belakang meja – dapat terlepas dari segala konotasi yang melekat pada kata “kelas pekerja”. Padahal menurut Lennon – A working class hero is something to be.
Ditambah demonstrasi dan pemogokan kerja yang tak lagi digubris pejabat birokrat. Inilah masalahnya. Ketika manusia tak lagi mau mendengarkan, jeritan pun tak akan terdengar gaungnya. Buka mata dan lihat betapa mereka tak gentar, bertarung bukan atas nama materi, melainkan pengakuan dan perlindungan hak untuk diperlakukan sebagai manusia biasa.
Pertarungan kelas sudah ada dan terjadi setiap periode kehidupan manusia. Dulu mereka ditindas, sekarang pun demikian. Tak heran Karl Marx pun hadir menggunjingkan pertentangan kelas, antara borjuis versus proletariat. Sampai-sampai dia dan Fredrich Engels mencetuskan ajarannya untuk menghapus hak milik perseorangan dan menggantinya dengan hak milik bersama yang dikontrol negara. Bagi Marx dan Engels, kaum pekerja dianggap sebagai kaum revolusioner karena mampu melumpuhkan proses produksi sekaligus menguasai alat produksi, tetapi mereka diperbudak oleh modal yang tidak mereka miliki. Sejarah mencatat isi Manifesto Komunis sudah mulai terwujud saat ini, di mana kaum buruh telah memiliki suaranya sendiri. Titik baliknya pada 1 Mei 1886 ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja untuk perayaan tercapainya tuntutan delapan jam kerja oleh aksi buruh di Kanada pada 1872.
They hurt you at home and they hit you at school
They hate you if you’re clever and they despise a fool
Till you’re so fucking crazy you can’t follow their rules
Kerja – yang dilakukan tentu saja oleh kelas pekerja – menjadi begitu rendahan dan tidak berpendidikan. Sejarah “kelas pekerja”sendiri menjadi begitu kelam ketika disandingkan dengan berbagai bentuk protes tak berujung. Berbagai peraturan tidak masuk akal – diantaranya mekanisme upah minimum dan jam kerja gila-gilaan – dibuat untuk memunculkan ketakutan atas terputusnya sumber penghidupan dan pada akhirnya mereka terjebak selama puluhan tahun dalam posisi yang sama. Kekangan ini memunculkan traumatik – yang lucunya malah memunculkan efek kecanduan – sehingga untuk menekan munculnya kegilaan massal ini ke permukaan, diberikannlah kesenangan artifisial berupa hiburan dalam dosis tinggi – Keep you doped with religion and sex and TV.
Kengerian atas [konstruksi] realita yang dihadapi seluruh kelas pekerja memunculkan istilah kelas menengah. Kelas menengah sendiri merupakan label yang dibuat untuk pekerja kerah putih, yang membedakan diri dengan buruh – lebih terpelajar, lebih melek teknologi, lebih intelek – yang disimbolkan dengan jas rapi berwarna abu-abu dan cara berpikir yang juga abu-abu – akibat terlalu banyak mengkonsumsi gagasan dan hiburan murahan sebagaimana dikemukakan Lennon. Dengan kata lain, kelas menengah adalah sekumpulan manusia berisi pekerja kantoran, staff-staff perusahaan dan juga jaringan kerja akademis yang menolak untuk disebut kelas pekerja hanya karena perbedaan fungsi kerja.
And you think you’re so clever and classless and free
But you’re still fucking peasants as far as I can see
Lennon, sang filsuf-musisi, dalam lagunya meneruskan pemikiran Hegel dan Marx. Kesadaran kelas adalah sebuah ajakan untuk menyadari diri dan posisinya dalam struktur masyarakat. Dalam liriknya, Ia menggambarkan bahwa “pahlawan kelas pekerja” adalah seseorang yang berani memulai kesadaran dan tidak terbuai dalam sistem kelas imajiner dengan kenyamanan yang memabukkan. Disini Lennon tidak penuh basa-basi dan mengemukakan idenya secara eksplisit – yang cenderung berbahaya bagi kapitalisme. Namun, kontroversi lagu tersebut ternyata bukan mengacu pada kritik tajam liriknya, tapi pada kata “fucking” yang digunakan Lennon sebagai alusi penekanan pada beberapa baitnya. Di beberapa negara penggunaan kata tersebut kemudian disensor atas alasan tidak senonoh. Atas kejadian ini kita bisa berandai-andai – mungkin sistem telah begitu kuat sehingga tidak merasa terganggu atas kritik dalam sebuah lagu, atau mungkin masyarakat (dalam hal ini industri musik), memang tidak pernah memberikan perhatian pada perkataan (lirik) orang lain – dengan hanya menganggapnya sebagai sebuah objek di luar dirinya.
Semoga kaum buruh di Indonesia mampu memperoleh hak-haknya sehingga bisa bekerja tanpa tekanan dan mendapat perlindungan yang semestinya mereka dapatkan. Melalui perayaan 1 Mei ini, kita diajak untuk beraspirasi menyampaikan harapan, keluhan dan impian tentang kondisi kaum pekerja saat ini dan di masa mendatang.
Jayalah kaum buruh di dunia!
Posting Komentar