Rabu tanggal 26 Maret 2014, saya mendapat kabar dari teman-teman yang sering menyebut dirinya sebagai Outsiders dan Ladyrose bahwa band yang mereka junjung dan hormati Superman Is Dead telah meluncurkan video klip Sunset Di Tanah Anarki. Sebuah tembang bertema romansa dalam sebuah perjuangan dan sebuah perlawanan, sedikit gambaran yang kemudian menjadi nama dari album terbaru band yang berasal dari Bali ini. Video klip ketiga dari album Sunset Di Tanah Anarki ini sering dibicarakan teman-teman ini sebagai klip yang paling mereka tunggu. Menanggapi keantusiasan teman-teman saya pun ikut untuk bergegas mencari link dari video tersebut melaui akun twitter @SID_Official yang sebenarnya tidak saya follow. Ya, mau gimana urusan follow mem-follow itu kan pilihan pribadi masing-masing. Toh, dengan tidak follow band atau para personil Superman Is Dead saya selalu menyimpan kekaguman kepada mereka sebagai sebuah misteri. Kekaguman yang tak mengganggu atau menuntut mereka untuk tahu.

Setelah melihat klip Sunset Di Tanah Anarki di Youtube, saya sedikit janggal dan agak kecewa dengan gembar-gembor yang di media twitter. Bagaimana klip ini dianggap sebagai klip yang mampu mengubah pola pikir orang yang melihatnya untuk lebih mencari informasi dari setiap adegan klip ini. Walau banyak mendapatkan pujian karena berani mengangkat tema revolusi dan anarki yang mungkin tabu bagi sebuah grup band major. Tapi Superman Is Dead tetaplah Superman Is Dead, mereka tetap selalu berada dijalur perlawanan pada tirani. Termasuk tirani industri musik sendiri, dengan memberikan pernyataan bahwa itu adalah klip versi dari perusahaan rekaman tempat mereka bernaung. Superman Is Dead tampaknya tahu banyak yang masih bertanya dan kurang puas pada klip ini, mereka pun segera menyatakan ada satu lagi klip yang murni dan tanpa sensor dari label untuk dipublikasikan.

Dalam minggu yang sama klip versi tanpa sensor ini akan keluar. Pernyataan ini diungkapkan salah satu personil Superman Is Dead yaitu I Gede Ari Astina atau lebih dikenal dengan Jerinx, melalui akun twitternya @JRX_SID. Dan tepat tiga hari setelah peluncuran video klip versi label, klip tanpa sensor ini keluar. Tak banyak tambahan dari video klip ini, tapi klip ini lebih memiliki nyawa dan pesan yang teramat menyentuh. Hadirnya Suciwati Munir, Sipon istri dari Wiji Thukul, dan Ilham Aidit yang kehadirannya seperti membawakan roh kembali pada raga yang ingin melawan tetapi tertahan oleh kekosongan jiwa. Memang mereka tidak ikut berakting, hanya sekedar memberi testimoni. Yang menurut saya begitu dalam. Setelah tak puas hanya melihat sekali dan berulang kali memutarnya untuk memperoleh pesan yang ingin disampaikan klip ini. Setidaknya saya memperoleh 3 pesan dari klip ini. Romansa dalam perjuangan, perlawanan, dan harapan.

Pertama adalah romansa dalam perjuangan. Ini dapat dilihat dari pertama kali ketika klip baru saja dimulai. Seorang sipir tampak sedang berjaga dan berganti adegan seorang gadis di sebuah mobil menikmati perjalanan dengan memegang sebuah kain untuk dibiarkan menari-nari di luar cendela mobil. Tak lama kain itu jatuh dan seorang laki-laki mengambilnya. Lalu kembali pada seorang sipir yang sedang bertugas mulai menyalakan radio di atas meja tepat bersama secangkir kopi dan sebuah buku daftar tahanan.

"Inilah Radio Revolusi Indonesia, mempersembahkan sebuah langgam nostalgia."

Sedikit narasi penyiar radio yang diikuti adegan seorang tahanan yang berdiri seakan ingin mengingat alasannya berada di balik jeruji besi.

"Andai ku malaikat ku potong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu. Perangkan berakhir, cinta kan abadi. Di tanah anarki romansa terjadi..."

Tepat pada bait ini, selalu ditampilkan kenangan-kenangan dari si tahanan ketika menikmati romansa percintaannya. Ketika sedang berdua di sebuah taman dengan menikmati pembacaan puisi sang pasangan atau menghabiskan senja kala berdua. Walau pada pengulangan bait ini juga terjadi perpisahan. Perpisahan yang dilatari oleh si lelaki yang tak lain adalah orang paling lantang bersuara tentang perlawanan. Dan kini sebagai tahanan ia hanya mengingat romansa percintaannya di masa perjuangan.

Begitu banyak perlawanan yang sesungguhnya coba ditawarkan video klip Sunset Di Tanah Anarki ini. Seperti selepas bait pertama, ada sebuah adegan seorang orator di tengah kerumunan demonstran.

"Hidup rakyat! Kebenaran harus tetap hidup, hanya ada satu kata; LAWAN"

Seketika itu para demonstran yang berpakaian putih mengikuti berteriak.

"Desing peluru tak bertuan, hari-hari yang tak benderang. Setiap detik nyawa ini kupertahankan untukmu. Alasanku ada di sini, dan parasmu yang kurindukan. Di neraka kan kumenangkan, hariku bersamamu..."

Pada bait ini gambaran paling jelas dari sebuah gerakan perlawanan. Banyak simbol-simbol dari sebuah perlawan. Gambar tokoh-tokoh perlawanan dari Marsinah si wanita tangguh pejuang ketidakadilan nasib buruh. Wiji Thukul salah satu tokoh sastra yang hampir semua karyanya berisi tentang perlawanan ketidakadilan masa orde baru. Dan juga Munir tokoh yang berjuang dengan gigih menuntut kasus-kasus pelanggaran HAM, ketiganya mempunyai kesamaan melawan ketidakadilan dan kekerasan pada masa orde baru. Persamaan yang lain adalah ketiganya di "hilangkan". Selain itu tempat berdemo dalam klip ini adalah taman 65. Taman yang bekas sebuah rumah korban dari genosida tahun 65 dengan dalih penghianatan PKI ( Partai Komunis Indonesia ). Seakan lebih memberi pesan terbuka untuk semua kasus itu terdapat tulisan di tembok "FORGIVE BUT NEVER FORGET". Sedikit juga bocoran dari Jerinx dari akun twitternya, bahwa semua yang berperan sebagai demonstran adalah aktivis-aktivis Bali yang sudah terbiasa turun kejalan. Termasuk juga pemeran tahanan.

"Dalam gelisahku menunggu, berita tentang gerilyamu. Semerbak rindu kuasai udara panas ini. Sepucuk surat telah tiba, dan senja pun ikut berdebar. Kalimat indah dan kisahmu tentang perang dan cinta..."

Di bait ini dinyanyikan biduanita Briana Simorangkir, disini dia berperan sebagai kekasih dari si tahanan. Setiap adegan di bait ini seakan menceritakan seorang kekasih yang ditinggal berjuang untuk menyuarakan kepentingan orang banyak. Mengesampingkan setiap kerinduannya dan tak mengecilkan hatinya untuk memberi dukungan pada sang kekasih.

"Kubasuh luka dengan air mata. Oh hatimu beku, serta jiwamu yang lelah. Tak henti lawan dunia dengan mimpi besar untuk cinta. Dan jalanmu tuk pulang, di ujung waktu kan ada cahaya..."

Bait yang juga masih dinyanyikan Briana. Bait ini dinyanyikan tepat setelah keributan dalam demonstrasi klip ini, keributan berlatar belakang penangkapan orator demonstran. Penangkapan tepat di depan sang pasangannya. Dalam kesedihan, sang pasangan menari di atas tulisan Taman 65. Dengan keadaan sekitar yang gelap dan kombinasi dari lirik juga musiknya,  ini mungkin scene paling epic. Sebagai seorang yang mencintai atau pasangan dari seseorang yang berjuang melawan ketidakadilan rezim yang berkuasa, harus selalu siap dengan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun. Lalu hadirlah Suciwati Munir untuk memberikan testimoni pertama.

"Dia ketika pergi bilang kepada saya bahwa; Saya tidak bisa pergi jauh dari anak-anak, saya sudah menemukan surga saya."

Sebuah testimoni yang begitu dalam, tak lama kemudian Sipon istri dari Wiji Thukul juga menambahkan testimoni.

"Karena puisinya peringatan; Apabila usul ditolak, kritik dilarang tanpa ditimbang, dan dituduh subversif. Maka hanya ada satu kata, LAWAN"

Setelah itu satu reff terakhir mengiringi, seakan mengajak detak jantung berpacu lebih kencang. Setelah sebelumnya dibuat gemetar oleh testimoni dari Suciwati Munir dan Sipon Wiji Thukul. Dan ketika reff berakhir. Giliran Ilham Aidit yang memberikan testimoni yang lebih mirip seperti ingin memberi ledakan.

"Kalau peristiwa itu terbuka secara gamblang, maka itu akan menyudutkan...(sensor). Oleh sebab itu cara paling mudah adalah menghabisi orang yang akan memberikan klarifikasi tentang peristiwa itu kepada Soekarno yaitu Aidit"

Secercah harapan tersirat pun coba digantungkan klip ini. Kepada mereka yang peduli pada negeri ini.

"Itulah aku, raihlah mimpimu..."

Kalimat terakhir di lagu Sunset Di Tanah Anarki ini seakan mengajak setiap aku yang mendengarkan atau melihat klip lagu ini untuk bangun dari ketidakpedulian untuk lebih peduli dan ikut menjadi aku yang berjuang dan melawan, bukan demi apapun hanya karena demi cinta. Cinta terhadap segala apapun yang bersifat jujur dan adil. Sebagai penutup klip dan tulisan ini. Ada testimoni dari Suciwati Munir untuk sebuah harapan dan kesadaran untuk melawan lupa.

"Jangan menggadaikan bangsa ini kepada orang yang memang salah, sehingga kita akan terus-menerus pada sebuah masa yang tak pernah beranjak sebetulnya."


Superman Is Dead - Sunset Di Tanah Anarki (uncut version)