Pernahkah anda membayangkan menjadi orang yang berkecukupan. Memiliki apa saja, mampu membeli semua dengan yang anda punyai, atau dapat pergi kemana saja ke tempat yang ingin anda kunjungi. Mungkin bukan masalah pernah lagi, tetapi mungkin malah kita terlalu sering untuk berandai-andai menjadi seorang yang saya sebutkan tadi. Tapi, untuk menjadi seperti itu mungkin kita perlu menjadi anak seorang pengusaha yang sukses atau anak pejabat yang bergelimang pendapatan. Sesuatu yang tak dapat dipungkiri jika masalah materi kadang membuat seorang manusia memiliki rasa iri. Suatu sifat yang wajar melihat ketika melihat manusia sebagai makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia yang lain. Dimana saat salah satu dari sekian kita memiliki sesuatu yang lebih, seperti dengan pakaian branded, sepatu model terbaru, kendaraan yang mudah menarik perhatian lawan jenis, berwisata ke tempat-tempat yang memerlukan biaya tak murah atau segala tetek bengek keseharian yang serba wah. Tetapi berandai-andai untuk itu semua hanyalah membuang waktu. Sementara hidup yang sebenarnya lebih kejam dari sekedar menghayal jadi seorang yang berlimpah materi. Prek, seorang teman saya akan membantah semua yang akan saya tuliskan ini dan mungkin teman yang lain akan menambahkan "tangio ojo gur ngimpi" dan pasti seketika itu saya menjadi bahan pembullyan.

Ya, begitulah seorang teman akan mengingatkan teman yang lain. Kadang ada yang dengan perkataan halus, menyindir, to the point, atau bahkan dengan makian. Sebagai seorang anak yang lahir bukan dari keturunan pengusaha sukses atau pejabat, tetapi hanya lahir dari pasangan suami istri yang keseharian bekerja sebagai buruh dan ketika musim tanam menjadi petani. Menikmati segala kemewahan hanyalah sekedar mimpi. Berkeinginan menjadi pengusaha sukses atau pejabat pun tampaknya hal yang cukup sulit. Untuk menjadi pejabat pemerintahan atau sekedar PNS pun perlu modal, setidaknya modal untuk sogok sana-sini. Persaingannya pun tidak sedikit, dengan jaminan pensiunan yang menggiurkan juga kemudahan ke segala akses membuat peminatnya kadang menjadi buta. Yang pada akhirnya berlomba memberi tawaran tertinggi untuk membayar calo-calo pekerjaan dan kebanyakan dari mereka tak dapat bekerja maksimal. Dengan kemampuan yang patut dipertanyakan dan hasilnya hanya akan menjadi pemborosan APBN. Bajilak duwur tenan bahasane hahaha... dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak tertarik dengan pilihan menjadi pejabat atau segala hal berbau kekuasaan.

Sementara untuk menjadi pengusaha sukses kemungkinan yang semua orang bisa lakukan begitu juga saya atau anda, tetapi untuk saat ini dipikir karo mlaku wae. Seperti ungkapan keren go in the flow, mungkin lebih tepat jika menggunakan ungkapan lokal saja ngeli penting ora keli. Perlu digaris bawahi mungkin ini seperti sesorang yang tak mempunyai harapan, mimpi, atau juga cita-cita. Tapi itu semua bukan yang menjadi tujuan utama. Melainkan membiarkan harapan, mimpi, atau cita-cita menemukan waktu yang tepat untuk dapat memilihnya. Menjadikan waktu sebagai sebuah pembelajaran tapi tak menolak juga untuk menaruh sebuah tujuan di antara semua ketidakpastian apa yang ada dihidup ini. Begitulah kehidupan yang ingin saya gambarkan tentang beberapa teman yang terbiasa meluangkan waktu dengan saya. Ya, meskipun bukan seorang yang pandai bercerita di kehidupan nyata dan hanya berani menulis apa yang saya pikirkan. Saya tak akan sanggup membicarakan kehebatan mereka secara terbuka dengan tatap muka sambil menenggak bir dingin atau hanya meminum kopi pabrikan dengan berbagi asap bersama. Karena mungkin saat mengungkapan kekaguman saya, mereka akan merendahkan saya sebagai penjilat atau apapun yang menjijikan bagi mereka. Satu hal bernama pujian yang mungkin bagi orang lain atau kebanyakan orang cari tapi bagi mereka sangat memuakan untuk diterima.

Jika anda berpikir mereka begitu mulia dengan sifat kerendahan hati yang luar biasa, anda salah besar. Mereka tak lebih hanya sampah masyarakat pada umumnya. Kenapa saya berteman dengan sampah masyarakat? Mungkin pernyataan ini menggelitik anda akan bertanya dalam hati, atau kemungkinan yang lain anda akan menilai saya sebagai sampah masyarakat juga. Jika anda memilih untuk bertanya dalam hati, mungkin saya akan mengajak anda bertemu dan menikmati wedang angkringan di sekitaran Jogja tentunya. Karna ya domisili saya di Jogja, lebih tepatnya Wonosari sebuah daerah pinggiran Jogja. Kota yang masih tenang dengan segala keindahan potensi alam dan sumber daya manusianya. Sudah cukup kode untuk domisili, lanjut jika anda tadi memilih menilai saya sebagai salah satu sampah masyarakat. Mungkin anda benar atau juga bisa dikatakan salah. Benar, jika penilaian anda sebatas melihat definisi sampah masyarakat adalah orang dengan masa depan tidak jelas, sering berbuat maksiat menurut kaidah agama, atau sering meresahkan ketentraman lingkungan. Kemungkinan lain anda akan salah karena anda terlalu menilai orang tanpa anda mengenalnya terlebih dahulu.

Tetapi, jika anda memilih untuk pilihan kedua tentang menilai saya. Tentu sebagai orang yang memiliki hampir semua definisi seorang sampah masyarakat, saya tak akan marah apalagi mengajak anda twitwar. Itu pun jika anda memiliki akun twitter. "Bagaimana mau ngajak twitwar, punya akun  twitter saja ndak punya pun jika memiliki akun twitter ya ga bakal follow kamu mas" dyar heru nek dipal ngono kui. Sebagai seseorang yang sering memakai jasa sosial media twitter, tetapi bukan selebtwit seperti kebanyakan kaum kelas menengah yang juga sudah tentu mengerti apasaja. Karena saya bukan selebtwit apalagi kaum kelas menengah, bahkan untuk mengerti apasaja harus berkiblat pada mereka si kaum kelas menengah. Berusaha untuk menyamai atau sekedar meniru kelas menengah bagi kami si sampah masyarakat ini sudah menyenangkan. Bagaimana tidak, memiliki segala barang gadget model terbaru walau sebenarnya bekas atau rekondisi sudah rahmat tuhan yang Maha Esa limpahkan tak terkira. Pun seperti itu juga kadang masih banyak yang menilai kami sebagai sampah masyarakat yang tidak tahu diri. Mungkin, ini baru sekedar kemugkinan bagi kelas menengah bahwa sebenarnya sampah masyarakat hanyalah kambing hitam yang paling mudah diserang atas segala kebobrokan moral masyarakat jaman sekarang.

Dari dasar pertama tentang sampah masyarakat, yaitu permasalahan masa depan yang tidak jelas. Jika anda atau siapa saja dapatkah menentukan masa depan seseorang, andai kata pun anda bisa pastilah sekarang anda orang yang begitu disegani dan ditakuti. Bagaimana tidak masa depan seseorang dapat anda tentukan, atas segala usaha dan doa yang tergantung di tangan anda. Dan berawal dari kuasa anda ini, ketidakjelasan masa depan seseorang atau orang yang lebih banyak lagi dipertaruhkan. Untuk dasar yang kedua, sering berbuat maksiat menurut kaidah agama. Seingat saya agama ada untuk mengontrol tingkah laku manusia termasuk urusan moral. Tapi melihat realita sekarang ini, banyak orang  yang berbicara tentang menegakan moral masyarakat dengan merampas kedaulatan hak orang yang lain. Seperti oknum dari kelompok agama tertentu sering bertindak dengan jalur kekerasan dari pada penyelesian dengan bermusyawarah, yang tentu akan terlihat lebih bermoral. Meskipun sesungguhnya semua itu bukan dasar untuk tindakan maksiat yang terbiasa dilakukan. Meminum minuman keras mungkin adalah hal yang memicu kemaksiatan sampah masyarakat pada umumnya. Kurangnya rasa tanggung jawab atas tubuh mereka sendiri saat menikmati minuman ini, kadang menjadi terjadinya hal ketiga dari definisi sampah masyarakat. Perbuatan yang meresahkan ketentraman lingkungan masyarakat. Kedua hal ini memang memiliki satu alur yang sama, yaitu dapat mengganggu orang lain. Tapi, itulah bentuk protes mereka terhadap tatanan masyarakat. Mereka jengah menjadi kambing hitam dari kebobrokan masyarakat permukaan.

Penilaian dan pengucilan masyarakat yang lebih berpendidikan atau mapan terhadap kemunduran pola pikir dan kebobrokan moral dengan pemicu dari semua itu adalah sampah masyarakat. Mungkin pendapat seperti sudah menjadi hukum tak tertulis dalam kehidupan bermasyarakat. Menempatkan kepandaian pada puncak tertinggi masyarakat, sedangkan mereka yang lebih mengganggu di dalam tatanan masyarakat berada di bagian paling bawah dan dasar.

Tapi beruntunglah, dalam pandangan teman-teman sampah masyarakat ini tak dibedakannya dengan strata. Semua adalah sama dan setara. Tak ada yang lebih mulia atau lebih rendah. Semua terjalin atas dasar kebersamaan. Walau kadang kebersamaan ini berbuah tindakan yang kurang baik. Toh, sesungguhnya mereka sedang dalam proses pencarian jati diri dengan cara memprotes tatanan lama dalam masyarakat yang sudah terlanjur rapuh dan bobrok. Dalam cara yang tidak santun mereka sedikit melawan, tak seperti kebanyakan orang yang berpendidikan lebih tinggi mengagungkan kesantunan untuk memperoleh perhatian dan puja-puji masyarakat. Dan pelajaran dari teman-teman ini adalah kesantunan lebih dekat pada kemunafikan.