Tahun 2014 banyak dikatakan sebagai tahun politik dan seakan dari itu semua orang mengamini. Alasan mengapa disebut sebagai tahun politik tak lain karena di tahun ini diadakan Pemilihan Umum atau sering disebut Pemilu. Sebuah rutinitas lima tahunan negeri ini memilih atau menyeleksi orang yang akan berdiri untuk kepentingan rakyat. Walau pada kenyataannya pernyataan di atas tak lebih sekedar istilah. Pemilu yang pada dasarnya adalah salah satu program dari sistem demokrasi, selalu berjalan tak lebih membaik secara signifikan dari pemilu dulu hingga sekarang. Berbagai hal di rubah seperti proses pemilihan atau keterbukaan proses penghitungan suara untuk memperbaiki pemilu itu sendiri. Mungkin akan terlalu njlimet jika harus berbicara data atau surve ini itu yang tak tentu. Lebih baik berbicara apa yang ada dalam pemilu kali ini mungkin bisa menjadi hiburan di tengah berbagai silang pendapat kandidat atau visi misi mana yang lebih baik.
Sebagai bagian paling penting tampaknya partai patut di tepatkan pada daftar urutan teratas pada chart tangga lagu terdahsyat. Mungkin akan menimbulkam kerancuan kenapa kok partai disamakan dengan tangga lagu salah satu program musik televisi yang katanya paling populer, tentu ada kesamaan kenapa kok partai dengan lagu di program musik itu. Jika acara musik itu tayang setiap pagi mungkin partai juga selalu datang ketika pagi. Dimana pagi selalu menjadi perumpamaan sebagai sebuah harapan yang akan hadir pada setiap orang. Namun ketika pagi itu malah hadir lagu acara musik yang isinya tak lebih dari lagu patah hati atau perselingkuhan. Bukankah partai juga tak lebih dari lagu-lagu patah hati yang tak banyak memberi motivasi atau perubahan, malah kadang menjadi lagu perselingkuhan dimana partai satu ingin berada di lingkaran pemerintahan dan tak mau berada di lingkaran oposisi. Dan puncak tangga lagu menjadi incaran dari setiap lagu itu sendiri, termasuk partai pastinya selalu ingin berada di puncak.
Jika partai adalah deretan tangga lagu terdasyat, mungkin caleg adalah penyanyi yang terbiasa mengisi di acara tersebut. Mungkin satu dua yang hadir adalah benar-benar memiliki kemampuan untuk menyanyi. Tapi kebanyakan tak lebih orang-orang yang ingin dikenal. Mungkin lebih payahnya lagi orang-orang yang ingin kaya dengan jalan pintas. Jadi tidak terlihat beda bukan dengan caleg-caleg jaman sekarang. Mungkin beberapa ada yang mencalonkan diri sebagai caleg karena panggilan hati dan mempunyai kemampuan. Namun kebanyakan dari caleg ini tak lebih dari orang-orang yang ingin memperkaya diri. Dengan gaji dan tunjangan ini itu sebagai wakil rakyat tentu menarik untuk siapa saja. Termasuk penyanyi di acara pagi ini, mungkin juga tertarik.
Tak lupa untuk segala pesta pora perayaan pemilu akan selalu hadir kampanye dari para simpatisan partai. Untuk para simpatisan pemilu yang turun ke jalan atau aktif mungkin mirip seperti penonton yang hadir di acara musik pagi ini. Tampil dengan warna-warni seperti identitas suatu partai yang kebanyakan mempunyai warna kebanggaan, contoh warna merah untuk partai banteng, kuning untuk partai beringin, hijau untuk partai ka'bah, juga ada warna biru untuk partai matahari. Tak jarang juga penonton-penonton ini memakai atribut salah satu penyanyi, tampak seperti papan reklame hidup. Jika berbicara papan reklame hidup tak lengkap jika tak membicarakan pamflet atau spanduk foto caleg yang dipasang atau tepatnya dipaku pada batang pohon. Jika diberi kesempatan untuk bertanya kepada setiap caleg yang menancapkan wajah binal mereka di setiap pohon, berapa harga yang berikan kepada setiap pohon itu? Lalu, jika dalam kampanye masih terdapat aksi pawai kendaraan bermotor dengan segala kebisingan yang mereka sertakan anggaplah itu seperti penonton alay yang beryel-yel ria dengan gerakan cuci jemur yang melegenda itu. Selain mengganggu secara pendengaran tetapi juga penglihatan, kiranya cukup untuk sebuah alasan tidak melihat acara ini.
Pemilu yang digembar-gemborkan itu pun tak lebih baik dari acara musik pagi dengan segala pernak-perniknya yang tak mendidik. Sebuah hiburan yang menyajikan sorak-sorai para penontonnya. Lantas bagaimana jika mereka tak menginginkan hiburan ini, mudah cukup matikan televisi atau ganti chanel lainnya. Untuk pemilu, mungkin bukan sebuah anjuran tetapi hanya pendapat pribadi. Untuk saat ini tak ada kelayakan untuk melihat televisi, atau dalam pemilu memilih untuk tidak memilih. Memilih untuk tidak memilih? Ya, ini biasa disebut dengan golput atau golongan putih.
Golput itu tidak salah, toh semua berhak menentukan pilihannya dan golput termasuk sebuah pilihan. Setidaknya dengan golput bisa menolak untuk dibodohi suatu sistem. Atau mungkin dengan golput bisa memberi tanda bahwa ada kejenuhan dalam sistem pemilu, seperti ketika memilih untuk mematikan televisi pasti rating dari sebuah acara akan turun dan pihak televisi akan mengganti dengan acara yang lain. Sedikit pandangan tentang sebuah golput. Sementara pada dasarnya segala sesuatu dalam berpartisipasi politik tak perlu menunggu pemilu. Setiap waktu, bukan lagi "5 menit untuk 5 tahun" tetapi berpartisipasi "5 tahun untuk 5 tahun". Pemilu tak merubah apapun, perubahan ada disetiap kepala yang berpikir. Kendali ada ditanganmu, golput atau tidak itu hak anda. Gunakan sebaiknya dan terus mencoba untuk melihat kondisi politik. Jadi ambil remot dan matikan televisi.
Salam hangat terdahsyat untuk seluruh keluarga dahsyat Indonesia...
Sebagai bagian paling penting tampaknya partai patut di tepatkan pada daftar urutan teratas pada chart tangga lagu terdahsyat. Mungkin akan menimbulkam kerancuan kenapa kok partai disamakan dengan tangga lagu salah satu program musik televisi yang katanya paling populer, tentu ada kesamaan kenapa kok partai dengan lagu di program musik itu. Jika acara musik itu tayang setiap pagi mungkin partai juga selalu datang ketika pagi. Dimana pagi selalu menjadi perumpamaan sebagai sebuah harapan yang akan hadir pada setiap orang. Namun ketika pagi itu malah hadir lagu acara musik yang isinya tak lebih dari lagu patah hati atau perselingkuhan. Bukankah partai juga tak lebih dari lagu-lagu patah hati yang tak banyak memberi motivasi atau perubahan, malah kadang menjadi lagu perselingkuhan dimana partai satu ingin berada di lingkaran pemerintahan dan tak mau berada di lingkaran oposisi. Dan puncak tangga lagu menjadi incaran dari setiap lagu itu sendiri, termasuk partai pastinya selalu ingin berada di puncak.
Jika partai adalah deretan tangga lagu terdasyat, mungkin caleg adalah penyanyi yang terbiasa mengisi di acara tersebut. Mungkin satu dua yang hadir adalah benar-benar memiliki kemampuan untuk menyanyi. Tapi kebanyakan tak lebih orang-orang yang ingin dikenal. Mungkin lebih payahnya lagi orang-orang yang ingin kaya dengan jalan pintas. Jadi tidak terlihat beda bukan dengan caleg-caleg jaman sekarang. Mungkin beberapa ada yang mencalonkan diri sebagai caleg karena panggilan hati dan mempunyai kemampuan. Namun kebanyakan dari caleg ini tak lebih dari orang-orang yang ingin memperkaya diri. Dengan gaji dan tunjangan ini itu sebagai wakil rakyat tentu menarik untuk siapa saja. Termasuk penyanyi di acara pagi ini, mungkin juga tertarik.
Tak lupa untuk segala pesta pora perayaan pemilu akan selalu hadir kampanye dari para simpatisan partai. Untuk para simpatisan pemilu yang turun ke jalan atau aktif mungkin mirip seperti penonton yang hadir di acara musik pagi ini. Tampil dengan warna-warni seperti identitas suatu partai yang kebanyakan mempunyai warna kebanggaan, contoh warna merah untuk partai banteng, kuning untuk partai beringin, hijau untuk partai ka'bah, juga ada warna biru untuk partai matahari. Tak jarang juga penonton-penonton ini memakai atribut salah satu penyanyi, tampak seperti papan reklame hidup. Jika berbicara papan reklame hidup tak lengkap jika tak membicarakan pamflet atau spanduk foto caleg yang dipasang atau tepatnya dipaku pada batang pohon. Jika diberi kesempatan untuk bertanya kepada setiap caleg yang menancapkan wajah binal mereka di setiap pohon, berapa harga yang berikan kepada setiap pohon itu? Lalu, jika dalam kampanye masih terdapat aksi pawai kendaraan bermotor dengan segala kebisingan yang mereka sertakan anggaplah itu seperti penonton alay yang beryel-yel ria dengan gerakan cuci jemur yang melegenda itu. Selain mengganggu secara pendengaran tetapi juga penglihatan, kiranya cukup untuk sebuah alasan tidak melihat acara ini.
Pemilu yang digembar-gemborkan itu pun tak lebih baik dari acara musik pagi dengan segala pernak-perniknya yang tak mendidik. Sebuah hiburan yang menyajikan sorak-sorai para penontonnya. Lantas bagaimana jika mereka tak menginginkan hiburan ini, mudah cukup matikan televisi atau ganti chanel lainnya. Untuk pemilu, mungkin bukan sebuah anjuran tetapi hanya pendapat pribadi. Untuk saat ini tak ada kelayakan untuk melihat televisi, atau dalam pemilu memilih untuk tidak memilih. Memilih untuk tidak memilih? Ya, ini biasa disebut dengan golput atau golongan putih.
Golput itu tidak salah, toh semua berhak menentukan pilihannya dan golput termasuk sebuah pilihan. Setidaknya dengan golput bisa menolak untuk dibodohi suatu sistem. Atau mungkin dengan golput bisa memberi tanda bahwa ada kejenuhan dalam sistem pemilu, seperti ketika memilih untuk mematikan televisi pasti rating dari sebuah acara akan turun dan pihak televisi akan mengganti dengan acara yang lain. Sedikit pandangan tentang sebuah golput. Sementara pada dasarnya segala sesuatu dalam berpartisipasi politik tak perlu menunggu pemilu. Setiap waktu, bukan lagi "5 menit untuk 5 tahun" tetapi berpartisipasi "5 tahun untuk 5 tahun". Pemilu tak merubah apapun, perubahan ada disetiap kepala yang berpikir. Kendali ada ditanganmu, golput atau tidak itu hak anda. Gunakan sebaiknya dan terus mencoba untuk melihat kondisi politik. Jadi ambil remot dan matikan televisi.
Salam hangat terdahsyat untuk seluruh keluarga dahsyat Indonesia...
Posting Komentar