Bertambahnya usia kadang membuat seseorang tampak seperti seunit mesin hidup yang terprogram dengan kontrol penuh sebuah super komputer. Begitu kaku, penuh perhitungan, dan tentu melelahkan. Menguras semua tenaga untuk memenuhi kebutuhan asap-asap tembakau dan berbagai hal tuntutan pergaulan. Meluangkan waktu untuk menyegarkan pikiran pun terkadang hanyalah serupa wacana yang tak kunjung datang. Saat tugas menumpuk dan berbagai hal lain menunggu untuk diselesaikan (walau sebenarnya mungkin tak akan habis). Kadang mendorong untuk mengingat-ingat masa dimana sebuah tanggung jawab itu tak berhubungan dengan bagaimana cara untuk mencukupi diri, masa dimana tanggung jawab hanyalah urusan kesekian dan lebih menikmati waktu untuk bersenang-senang.
Jika mengingat masa mimpi tak begitu berarti, karna untuk tidur pun tak sempat dinikmati. Melewatkan sepanjang waktu petang hingga pagi menjelang untuk para sahabat. Lalu berbagi banyak cerita atau canda yang sebetulnya selalu sama dan diulang-ulang seperti sayur kemarin sore yang di hangatkan untuk dimakan saat kita mengingat telah menghangatkannya. Menghabiskan malam panjang dengan berkumpul di pinggir jalan, berbicara tentang keangkuhan atau sesekali menengguk air setan rasa selokan untuk membuat malam lebih berwarna kegetiran berselimut tawa panjang yang saling tikam tentang getir cinta, tapi itu hanyalah flare yang meledak untuk memecah dingin dan menerangi kekakuan gelap malam. Kami seperti serdadu-serdadu perang kemerdekaan yang bergerilya menyusuri jalanan kota yang selalu lenggang untuk kami taklukan, mungkin kami yang terlalu keterlaluan atau "ora ngerti wayah" yang dalam bahasa Indonesia berarti lupa waktu.
Walau sekarang waktu tak lagi sebebas umur belasan, tapi selalu ada cara mengatasi jerat tuntutan dunia dewasa yang penat. Seperti meluangkan waktu untuk berbincang sedikit santai sampai masalah serius dengan teman-teman baru senasib juga seperjuangan. Kesamaan rutinitas yang mengajari banyak hal-hal baru. Cara menikmati hidup dengan gaya baru. Gaya yang berbeda selama jutaan detik yang dulu terbiasa dihabiskan dengan hanya satu atau dua hal yang dapat dikatakan berguna. Pun itu masih saja kurang untuk besarnya tuntutan untuk berpacu dengan waktu kadang menyita diri dan tenggelam oleh tumpukan-tumpukan kertas yang binal mengejakulasi isi kepala. Untunglah ada satu ritual yang mampu menyelamatkan otak ini agar tak berubah menjadi bom waktu, ritual yang kami tempatkan pada daftar khusus diagenda pelarian dari rutinitas.
Ritual yang biasanya dilaksanakan malam hari dan biasa disebut dengan "wedangan". Seperti orang jawa kebanyakan menikmati minuman dan bercerita apa saja adalah tujuan ritual ini. Untuk tempat biasanya kami berwedangan ria di pinggiran jalan atau tepatnya trotoar jalan. Agak menyedihkan memang untuk ukuran pekerja yang tentu memiliki pendapatan bulanan memilih menikmati suasana yang bising dengan laju kendaraan, tapi disanalah tempat ternyaman yang kami bisa jangkau tanpa harus berwisata ala traveler. Dengan segala lalu-lalang kegiatan jalan dan dengan secangkir teh nasgitel (panas, legi, kentel) yang seolah membuka ruang-ruang bagi sudut bibir kami untuk mengembang sejenak. Kekhasan gula batu yang keras tapi rela meleleh digetir pahit teh tawar adalah senjata mematikan dari sebuah perjamuan wedangan. Dengan poci tanah yang setia menjadi penjaga panas dari air seduhan teh, seakan juga menjadi penjaga kehangatan bagi kami menikmati malam panjang.
Suasana jalan yang semakin malam semakin menyepi, juga selalu mengalihkan pembicaraan yang biasa kami bagi. Saat memulai ritual ini biasanya kami mengawalinya dengan urusan ini itu yang tak jauh dari keseharian. Urusan pekerjaan hubungan satu teman ke teman yang lain adalah jatah dari cangkir pertama. Karena cangkir pertama mungkin kami anggap sebagai pemanasan bagi setiap hal yang akan dibicarakan. Mulai dari saat menuangkan poci ke gelas kedua, peluit panjang seperti dalam sepak bola terdengar dan mulailah pembicaraan menjadi seperti pergerakan bola dalam lapangan. Saling serang dan menggalang pertahanan untuk setiap opini yang diajukan. Biarpun sebagian besar opini berisi berbagai candaan, kadang juga berisi sindiran. Entah sindiran untuk teman kerja, tingkah para pengguna jalan yang melintas, atau sindiran untuk berita-berita yang sedang menjadi pembicaraan banyak orang.
Hingga tiba waktu satu persatu kawan mulai mengudurkan diri dari tikar lusuh yang biasa kami tempati. Jarak rumah atau urusan esok selalu jadi surat ijin untuk meninggalkan cangkir mereka. Dan akhirnya ritual pun harus selesai. Pulang ke rumah masing-masing dengan bahagia kami dapatkan.
Dengan segala apa yang terjalani dengan penuh kerumitan dan menyisakan sisa hitungan hari untuk membicarakan apa saja yang ingin diucapkan setelah tertunda dengan tuntutan rutinitas adalah sebuah pelepasan diri untuk kembali utuh seperti manusia pada hakikatnya. Dimana manusia yang tak melulu berbicara target besaran angka esok hari, tetapi manusia yang bersosialisasi dengan manusia lainnya. Being Happy Is Simple, mungkin begitu kalimat yang tepat untuk menjabarkan bagaimana setelah menemukan hakekat diri menjadi seorang manusia. Terang lampu jalanan, gemuruh bising kendaraan lalu-lalang, dan trotoar jalanan. Seperti menjadi saksi-saksi kunci kesederhanaan dari sebuah hiruk-pikuk pemikiran yang berkecamuk untuk mencari jalan tenang. Serupa dengan masa yang lalu jalanan tak lelah memberi sebuah pelajaran. Malam dan wedangan adalah sebuah ilmu baru yang tak akan di buku pelajaran, ilmu untuk kembali mengingat apa saja dan membicarakannya.
Mengutip sebuah kalimat dari novel dan film Into The Wild "Happines only real when shared", bahagia bukanlah apa yang tercapai saat ini tetapi bagaimana bahagia itu bisa ada untuk dibagi. Menepati satu tikar bersama, sama rendah sama tinggi. Menuangkan satu poci ke cangkir-cangkir yang berbeda, sama rasa sama panasnya. Berada di antara teman dan bercerita, bukankah sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak menuntut untuk sebuah tugas atau deadline, tak batas untuk bahagia. Bahkan untuk berbahagia tak perlu sebuah alasan, karena sejatinya "Bahagia itu sederhana".
Untuk teman atau siapa saja, mari angkat cangkir atau gelas dan mulai bercerita...
Posting Komentar