Tanah kaya histori, tanah kaya tradisi
Masih terjaga rapi warisan penuh arti
Tak sebatas miliki ayo jaga lestari
Terbang seiring tinggi bakar mimpi pribumi

Sedikit penggalan lagu dari band folk rock bernama Panglima Kumbang. Sebuah lagu yang berkisah tentang kebanggaan dan bentuk penghormatan sebagai wakil putra-putri dari daerah untuk tanah dimana mereka tumbuh. Sedikit bait yang saya ambil untuk mengawali cerita kebanggaan dan apa yang sedang terjadi di tanah yang sama dengan judul lagu di atas.

Sebelumnya pernahkah anda mendengar sebuah daerah dengan julukan Pegunungan Seribu. Daerah yang sering diberitakan kekeringan, kerontang  dan selalu kekurangan air bersih. Jika anda tinggal di sekitar Jogja atau Jawa Tengah mungkin anda pernah ke daerah ini. Pun kini sedang dalam eksplorasi untuk menjadi kunjungan pariwisata alternatif atau bahkan tujuan wisata primer selain kawasan Jogja.

Daerah yang sering menjadi cemoohan dengan "ndeso" karna memang daerah ini masih jauh dari hingar bingar seperti kota besar dengan segala kesemrawutan tata kota juga transportasinya. Namanya adalah Gunungkidul, bukan Gunung Kidul seperti kebanyakan orang atau wisatawan yang bercerita tentang keindahan wisatanya. Kesalahan dalam penulisan seperti ini seperti sudah terlalu parah bahkan situs pencarian seperti Google pun ikut memberi andil dalam kesalahan ini. Dasar yang menurut saya adalah seperti penghapusan identitas dasar kebanggaan kami sebagai pribumi. Sebuah nama memiliki arti yang begitu mendalam, nilai sejarah yang terlalu panjang seakan dipenggal dengan mudahnya mereka yang menulis dengan spasi. Pemenggalan ini jelas memisahkan identitas dan kebanggaan kami sebagai pribumi di tanah yang kami hormati.

Ini memang tak sepenuhnya kesalahan mungkin karena kesalahpahaman semata. Seperti kesalahpahaman dalam penyebutan nama obyek wisata Gunungkidul yang sedang menjadi primadona wisatawan yang rindu dengan keindahan pasir putih juga biru laut yang memukau, itulah Pantai Pulang Syawal. Pantai Pulang Syawal? Mungkin sedikit yang mengenalnya, nama tenar pantai ini adalah Pantai Indrayanti. Kenapa bisa begitu, singkat cerita pantai ini dikelola oleh investor yang bernama diatas. Sedikit tamparan memang identitas kami terganti oleh nama seorang yang memiliki modal.

Serangan kaum pemodal memang luar biasa, bagaimana tidak dulu sebelum media informasi belum secepat ini. Tanah ini hanyalah tanah terabaikan tak ada lirikan dan itu membuat kami nyaman. Sekarang dengan berkembangnya arus informasi serta kekayaan tersembunyi  yang kami miliki. Para investor seakan berlomba menancapkan modal. Menerapkan segala bisnis berbau pariwisata. Mulai pengolahan lahan, sarana prasarana, hingga segala hal yang ada di lingkungan wisata. Salahkah mereka, saya rasa mereka tidak sepenuhnya salah. Ketidaksiapan pemerintah untuk mengelola dengan benar dimanfaatkan dengan baik oleh para pemodal untuk meraup untung besar dari tempat yang dulu pun tak mereka lirik sama sekali. Besar kemungkinan nanti daerah kami akan semakin maju dan tidak dibarengi dengan perawatan alam untuk kelangsungan jangka panjang. Kebiasaan pembangunan yang terlalu memaksa demi meraup keuntungan yang lebih cepat. Kenyamanan pun tak lagi jadi prioritas utama. Seperti kejadian yang belum lama terjadi di kawasan wisata Gua Pindul, Desa Bejiharjo, Karangmojo. Jumlah wisatawan yang berkunjung melebihi kapasitas daya tampung. Ini jelas kurang siapnya pengelola untuk memperkirakan segala kemungkinan. Tak adanya pembatasan kuota pengunjung jelas suatu kesalahan. Dampaknya tak ada kontrol terhadap perilaku wisatawan.

Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung membuat pemasukan warga sekitar, tetapi tidak untuk kebersihan tempat wisata. Seperti kawasan pantai yang mulai tampak banyak sisa-sisa sampah para pengunjung yang menumpuk. Botol mineral, bungkus makanan, atau puntung rokok dapat terlihat disebagian hamparan pasir. Terbatasnya tempat pembuangan sampah disekitaran pantai ditambah kurangnya kesadaran menjaga kebersihan selalu jadi penyebab utama. Belum lagi persoalan jalur akses menuju tempat wisata kadang memberi ketidaknyamanan seperti kemacetan. Jalanan yang sempit ditambah pembagian jalur yang belum maksimal.

Banyaknya permasalahan yang ada, semoga mendorong pemerintah untuk segera memperbaiki dan dapat memprediksi segala hal yang dapat dimanfaatkan untuk memberi pemasukan daerah juga warga sekitar tanpa melupakan kelangsungan dan keasrian tempat wisata yang kebanyakan berhubungan dengan alam. Teruntuk juga pengunjung kawasan wisata kesadaran untuk menjaga apa yang mereka nikmati, sekedar tidak mengotori dan membuang sampah pada tempatnya. Dengan hal kecil semacam itu dapat memberi dampak yang cukup membantu pengelola kawasan wisata. Semua karena alam dan oleh alam kita wajib menjaganya.

Seiring waktu banyak dari masyarakat yang mulai sadar akan kelangsungan alam yang semakin banyak penggiat wisata mengeksplorasi kekayaan alam Gunungkidul. Baik perseorangan atau komunitas, mereka terutama kaum muda selalu kritis dengan apa yang terjadi di sekitar mereka.

Gunungkidul mulai tumbuh, mulai berjalan tak perlulah berlari. Lihat jalan tepat didepan, kan kami jaga dan tak akan kami biarkan terjatuh. Detak pribumi kami Gunungkidul Handayani.

Gunungkidul Handayani rasakan detak juang pribumimu disini,
Gunungkidul Handayani kuatkan tekad kami menjaga tanah ini.