Bukan jarak yang membuat rindu terasa jauh, hanya waktu yang membuatnya berjarak. Bahkan dalam jarak, rindu tak akan bisa diukur walau perjalanan telah dilewati. Kepada waktu semua akan kembali, untuk terus ada atau hilang di tengah jalan.

Sebuah sapu tangan diusapkan diantara dahi dan pelipis, menyerap butir air tetes keringat. Terik matahari memang seperti kepala pabrik yang tak henti meminta tenaga manusia untuk kepuasannya. Bekerja sebagai buruh memang harus patuh pada kuasa dan perintah dari atasan. Rehat siang dan segelas es teh dingin mungkin dapat mengganti sedikit keringat yang menetes. Berkumpul dan bercerita dengan sesama buruh yang lain, menjadi kebahagian sederhana seorang buruh di tengah tuntutan jam kerja yang menggila. Walau bekerja sebagai pendamping besi-besi yang bergerak dengan program, manusia bukanlah mesin. Bercerita, sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh mesin. Dan betapa beruntungnya manusia diantara mesin-mesin ini, dapat bercerita sebagai manusia. Sekedar mengeluh terhadap sistem kerja yang merugikan atau bercerita tentang keseharian dalam bersosialisasi dengan manusia lainnya. Rekan bisa juga berarti saudara senasib atau bisa juga sebagai pengganti keluarga untuk buruh perantau.

Perantau adalah orang yang pergi dari kampung halaman untuk mencari sesuatu untuk dirinya sendiri atau keluarga. Merantau dapat dikatakan sebagai tradisi di kebanyakan daerah di Indonesia. Sebuah pembuktian kedewasaan atau mencari pengalaman yang baru. Tapi, kebanyakan alasan utama dari merantau itu adalah untuk memperbaiki ekonomi. Untuk sebuah pencapain kadang harus diikuti dengan berbagai pengorbanan. Seperti sebagai seorang perantau harus pergi dari kampung halaman, meninggalkan keluarga dan teman. Meninggalkan ruang ternyamannya untuk kemudian menggantinya dengan peluh dan tak jarang dengan keluh kesah. Tak mudah untuk menjadi seorang perantau. Perlu kebulatan tekad dan tentu saja pengorbanan-pengorbanan tadi, walau hanya sementara.

Sementara? Ya, sementara itu tidak sepanjang waktu. Dimana kita bisa kembali. Tapi bisakah sementara itu bisa dianggap mudah. Bahkan dalam menunggu sesuatu sepuluh menit misalnya, bisa dikatakan sementara dan dalam sepuluh menit itu banyak kemungkinan yang bisa terjadi, bisakah dikatakan mudah. Sepuluh menit untuk kembali mengingat kampung halaman atau teman. Sepuluh menit yang dapat memutar kembali ingatan-ingatan dalam kurun waktu yang tak sedikit. Apalagi yang sudah memiliki ikatan dengan lawan jenis, entah itu pacar atau istri. Sepuluh menit kepala dibuat bergulat dengan rasa rindu namun penuh dengan pertentangan. Seoalah menguatkan dengan rasa ingin terus bertahan, tetapi kemudian pudar dengan logika akan dasar keinginan yang kadang tak bisa ditahan. Telah banyak kisah yang bercerita tentang pergulatan waktu atau jarak. Semua tak pernah sama.

Begitu juga dengan sebuah hubungan yang terjalin berperantara jarak dan waktu. Jarak seperti sebuah mimpi buruk bagi tidur yang nyaman untuk seseorang yang menjalin hubungan. Tidur yang seharusnya membawa kebugaran bagi bangun yang akan datang dan mengganti rasa lelah yang terkuras. Dan mimpi buruk itu adalah buah dari ketakutan, yang kadang bercerita kejam dan membuatnya jera untuk merasakannya kembali. Hingga biasa setelah melewati mimpi buruk orang sulit untuk merasakan kembali nyamannya tertidur. Terpisahkan oleh jarak dan waktu memang sebuah cobaan bagi hubungan. Dalam hubungan yang biasanya terjadi karena adanya garis penghubung antara dua titik. Dua titik ini bisa diganti dengan manusia, hati dan pikiran manusia tepatnya. Sementara garis penghubung antara dua titik ini bisa berupa rasa percaya, ketertarikan, ataupun rasa memiliki. Rasa percaya bisa saja selalu ada, tetapi kadang ada yang mampu meruntuhkan rasa percaya dengan batas ruang jarak dan waktu. Saat terpisah dalam ruang yang berbeda pikiran sulit untuk tunduk dan patuh pada rasa yang coba ditumbuhkan oleh jiwa, seperti dua orang yang bercerita di dua ruangan berbeda. Mungkin kita bisa mengerti apa yang dibicarakan dan mencoba untuk percaya apa yang diceritakan orang yang di ruangan berbeda. Tapi, ketika kita tak melihat apa yang orang lain tadi lakukan akan timbul pikiran "benarkah yang ia ceritakan, benarkah apa yang ia lakukan" sementara kita di ruangan berbeda tak mungkin tahu hal sebenarnya. Walau hanya terpisah oleh ruangan tetapi setiap ruangan dikelilingi oleh tembok, tembok itu jarak dan waktu. Jadi rasa percaya masih dapat terhalang oleh pikiran yang coba menyanggah garis penghubung dengan sekat tembok jarak dan waktu. Meski sebenarnya rasa percaya setiap orang berbeda, tetapi perlu diketahui penghubung ini bisa rusak dengan sendirinya tanpa ada hal lain. Berbeda dengan ketertarikan, seperti dua magnet yang diletakkan di dua tempat yang terhalang tembok sekalipun akan ada gaya diantara keduanya untuk tetap tarik menarik. Hal yang mampu mengubah hal ini hanyalah ada magnet lain yang lebih besar gaya tariknya. Sama dengan halnya rasa memiliki, adalah seperti sebuah gabungan dari rasa percaya dan ketertarikan dengan bentuk lebih kuat dan kokoh. Seperti sebuah pintu yang dapat menyatukan dua ruangan untuk tetap terhubung, meski jelas masih ada tembok yang menghalangi. Rasa memiliki adalah pintu yang cukup berguna untuk dua hal yang tak dapat diketemukan karena terhalang batas. Meski sebenarnya pintu itu tetap tak bisa dibuka setiap saat karena masih terkunci. Dan kunci dari semua penghalang terbukanya pintu ini adalah kesabaran.

Perantau menjalani segala cerita berpenghalang jarak dan waktu pasti tahu bahwa kekuatan terbesar dalam perantauan adalah kesabaran. Karena dalam keadaan tertentu jarak dan waktu dapat berubah seperti sebuah penjara. Penjara kita tahu adalah tempat dimana seseorang tak dapat memiliki kebebasan yang seutuhnya. Ketika seorang perantau jatuh sakit misalnya, terbaring tak berdaya dan hanya bisa mengumpat pada keadaan. Hanya berteman dengan sekelompok obat dari dokter. Tak ada ibu yang menyiapkan segala keperluan yang tak dapat kita lakukan atau tak ada pasangan yang selalu siap menemani. Seperti sebuah penjara yang semu, tetapi rasa terpenjara itu nyata. Itu semua adalah yang mungkin dirasakan seorang perantau, tetapi mungkin juga dirasakan oleh orang yang ditinggalkan si perantau. Dan hanya pada kesabaran penjara pikiran seorang perantau dapat melunak. Bukan menghilangkan, hanya melunak. Bagaimanapun juga penjara pikiran itu akan selalu hadir. Namun pada kesabaran kita dapat belajar untuk mengerti dari arti sebuah pertemuan. Pertemuan adalah hasil akhir dari kesabaran atau bisa dikatakan sebuah titik dari garis penantian panjang waktu perantauan. Setelah sekian lama selalu meratapi di tepian tembok dan waktu. Satu kunci telah membuktikan bahwa ada pintu dari dua ruangan yang terpisah dapat terbuka.

Hingga pada satu waktu bunyi bel panjang telah memanggil para pekerja untuk kembali menghabiskan jam wajibnya sebagai masyarakat kerah biru (pekerja). Rutinitas yang harus dituntaskan. Suatu kebulatan tekad dan harapan sebagai perantau telah ditetapkan. Dengan segala hal yang akan datang kembali sebagai tembok pembatas kerinduan, jarak dan waktu telah membuat ruang. Ruangan berisi ingatan yang hanya akan bertahan dengan bekal sebuah kesabaran sebagai kuncinya. Mengembalikan segala sesuatu yang telah dimulai dengan keputusan. Keputusan dalam dua titik bernama hati dan pikiran. Membiarkan dua titik ini tetap terhubung dengan titik yang lain, atau terhenti di tengah jalan.

Terbatas oleh jarak dan waktu, bukan berarti tak ada jalan keluar. Meneguhkan diri atau menyerah adalah pilihan. Menunggu dengan sabar untuk sebuah pertemuan bisa menjadi satu jalan. Satu jalan yang harus ditukar berjuta rasa lelah hingga marah. Atau memilih jalan lain untuk tidak membuat batas jarak dan waktu. Yang berarti kita menyerah.


Sebuah hal baru dapat dikatakan berjalan setelah melangkah, melangakah berarti pergi. Dan sejauh apapun manusia berpergian, akan ada waktu untuknya kembali. Kembali ke rumah, dimana setiap rumah ada sebuah tembok. Tembok, tempat biasa meratap.