"Demokrasi baru dibaca oleh orang Indonesia, belum pernah ada prakteknya. Saya belum percaya. Demokrasi bukan dimulai oleh organisasi, tapi oleh individu yang demokratis sejak dari rumah, di jalanan, dalam otak, dalam perbuatan."
Begitulah kalimat yang diutarakan sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah wawancara majalah Tempo menyangkut pemilu pertama era reformasi tahun 1999 dalam sebuah judul "Aku Bukan Seorang Budak". Dimana pada saat itu Pram yang terkenal dengan karya besar tulisannya yang lebih banyak bercerita tentang kemanusiaan. Walau begitu Pram yang pernah menjadi tahanan dari semua fase pemerintahan. Dari kolonial, orde lama, hingga orde baru. Pram baru merasakan kebebasan dari tahanan Buru setelah era reformasi. Kebebasan yang tak mutlak, karena masih saja tertindas. Begitulah sedikit bercerita tentang Pramoedya Ananta Toer, seorang yang mengajarkan untuk mencintai sastra sebagai bagian dari jiwa manusia.
Dalam sebuah sastra tentu kita mengenal puisi atau prosa. Puisi yang lebih bebas, kadang berisi juga tafsir yang luas. Sementara prosa adalah sedikit yang lebih tertata dengan segala bentuk dan iringan tanda bacanya. Demokrasi di Indonesia bisa kita sama artikan dengan sastra. Dimana sebagai ide demokrasi bisa sama seperti puisi yang memiliki kebebasan dalam penafsirannya. Tapi demokrasi dalam sebuah wujud adalah sebuah prosa dimana kita harus taat pada setiap ejaannya.
Dan kini menjelang ujung dari gegap gempita perayaan pesta lima tahunan, pesta demokrasi. Pesta dari sebuah sastra dimana ada dua puisi dan dua prosa. Satu demi satu kita baca. Sebagai proses pembelajaran seperti waktu kita masih menjadi siswa sekolah dasar. Membaca demokrasi dari setiap hurufnya. Demokrasi dalam huruf ada yang konsonan ada juga yang vokal. Lalu anggaplah setiap huruf dalam demokrasi ini sebagai suara dari setiap warga negara dalam kancah demokrasi. Konsonan dapat disamakan seperti warga negara yang paling dominan dan mampu menjadi bagian dari proses demokrasi tapi lebih banyak memilih untuk diam. Sementara vokal adalah bagian yang cukup sedikit namun memberi dampak pada suara dalam demokrasi.
Pesta demokrasi kali ini begitu meriah dengan dua puisi yang diusung puisi Revolusi Mental dan puisi Macan Asia. Puisi Revolusi Mental lebih berisi tentang tafsir pengolahan dan pembaruan dalam pola pikir individu sebagai manusia. Sedangkan puisi Macan Asia lebih menitik beratkan pada potensi sumber daya alam yang telah lama terampas dan kembali untuk merebutnya sebagai kebanggaan sebuah negara. Meski tak sesederhana itu tafsirannya penitik berat dari isi kedua tafsir puisi ini, dapat menjadikan bahan acuan sebagai preferensi belajar demokrasi pada tanggal 9 Juli nanti.
Dalam bentuk prosa pertama yang coba dituliskan oleh Joko Widodo, dalam judul yang sama dengan puisinya "Revolusi Mental". Menyajikan kesederhanaan dan kebersamaan. Membacanya seakan menjadi kepulangan dari sebuah cerita tentang sebuah negeri. Berisi lebih spesifik tentang kegiatan bernegara berdasar atas kerakyatan. Yaitu dengan mengedepankan kepentingan rakyak dan menjaga kebhinekaannya. Bersama dengan rakyat merubah wujud demokrasi yang selama ini hanya berdiam diri dalam kejayaan masa lalu dan mencoba untuk bergerak menuju pembaruan. Dengan dasar mencukupi kebutuhan dasar rakyat sebagai manusia. Pertimbangan tentang kemanusiaan menjadi point penting dalam aspek demokrasi, dimana di dalamnya terdapat kebebasan untuk beribadah tanpa pelarangan dan segala bentuk gangguan dasar haknya sebagai manusia.
Sementara prosa kedua yang juga berjudul sama dengan puisi "Macan Asia" ini digaungkan oleh Prabowo Subianto. Prosa yang terlihat tegas dengan segala intonasinya yang cukup jelas. Ketika membedah isi dalam prosa ini ada angin segar bagi sebagian orang. Menjadikan siapa yang membacanya menjadi bersemangat dan berapi-api. Untuk sebuah demokrasi, menepatkan negara sebagai sebuah kebanggaan dan di atas segalanya. Memandirikan bangsa di atas kakinya sendiri. Namun ketika diamati dengan sesama ada beberapa hal yang menimbulkan rasa berlebihan untuk sebuah prosa yang disini disamakan dengan sebuah wujud demokrasi. Rasa berlebihan atau kekhawatiran muncul ketika meletakan kepentingan sebuah negara di atas segalanya, termasuk hak orang yang meminta keadilan atau hak dasar sebagai manusia.
Setelah membaca dan sedikit mengamati apa yang coba ditawarkan dari sastra atau demokrasi versi Joko Widodo maupun Prabowo Subianto dapatlah sekiranya menentukan demokrasi mana yang akan dipilih pada tanggal 9 Juli nanti.
PS: Seperti dari paragraf pembuka yang berisi kutipan seorang Pramoedya Ananta Toer. Dimana demokrasi baru dibaca oleh masyarakat Indonesia. Melihat segala media dan dimana saja gejolak demokrasi tak lagi sekedar dibaca tetapi dibicarakan. Demokrasi tidak berasal dari organisasi tetapi baru dimulai ketika berawal dari individu demokratis, dari rumah, jalanan dan perbuatan. Setelah melihat apa yang belakangan terjadi di negeri ini. Demokrasi yang sebenarnya saya percaya sudah mulai berjalan. Saya yang memiliki hak pilih sejak pemilihan 2009 dan memilih untuk golput sejak itu. Menyatakan untuk menentukan pilihan pada tanggal 9 Juli nanti. Bukan untuk mendukung Joko Widodo sebagai presiden, tetapi untuk menolak seorang Prabowo Subianto berkuasa di negeri ini.
Posting Komentar