Tumbuh dan besar dijaman dimana kebebasan berpendapat atau mempelajari ilmu masih saja dibatasi oleh segala ketakutan. Ketakutan menjadi seorang yang dianggap pembangkang. Selain itu bayangan akan dijadikan bahan pengucilan, lebih jauh jika itu berpendapat tentang kepemimpinan seorang penguasa negara. Ancaman, penculikan, penjara atau bahkan pengilangan nyawa sudah menjadi rahasia umum. Terlanjur takut akan semua hal yang akan terjadi membuat kebanyakan menjadi pendiam dan penurut.
Tapi, itu hanyalah awal bagaimana tumbuh mengenal pengekangan. Seperti burung dalam sangkar, terlihat baik-baik saja tapi kebebasan untuk terbang menikmati angin tak pernah ia rasakan. Dan tak selamanya sangkar akan tetap kokoh, akan datang masa dimana sangkar itu rentan dan keropos terhadap waktu juga usaha dari burung yang ingin bebas.
Datanglah waktu itu walau banyak darah yang harus diganti, kebebasan bersuara dan berkicau layaknya burung liar lainnya. Tinggalah sangkar dengan segala kebobrokannya.
Kini saat jaman tak ada lagi batasan tentang berpendapat juga mempelajari sebuah pemikiran. Saat semua hal diungkapkan dan informasi sangat mudah untuk didapat. Tak perlu mencari sebuah buku untuk mengerjakan sebuah tugas sekolah, tak perlu memiliki buku kamus yang begitu tebal saat ingin mencari arti kata. Semua cukup dengan duduk manis dan mencarinya disebuah media yang bernama internet. Lebih jauh lagi internet kini bukan lagi sebatas referensi mencari informasi tapi juga untuk bagaimana mencari kabar keberadaan seorang teman lama, membeli atau menjual sebuah barang.
Saat semua begitu mudah untuk dikemukakan atau dipelajari. Kebebasan yang dapat dirasakan semua tanpa peduli berwarna kulit apa, beragama apa, berpaham apa, bersuku apa dengan sama rata.
Tapi yang terjadi kebebasan memberi pola pikir yang begitu bebas. Mungkin benar itu kebebasan. Kebebasan yang luar biasa. Kebebasan menuliskan apapun bahkan hanya untuk menuliskan apa yang sedang ia lakukan, apa yang sedang mereka rasakan. Kebebasan yang memberi rasa malas untuk melihat dunia. Dunia yang tak melulu tentang dia, dia yang begitu memuja cinta, dia yang begitu tersakiti cinta, dia yang berkeluh kesah tentang macet, dia yang berkeluh kesah tentang lambatnya koneksi internet, dia yang berkeluh kesah tentang semua. Kebebasan yang dulu begitu dicari untuk nikmatnya, telah tergantikan oleh dia. Berubah makna menjadi kebebasan yang begitu menyedihkan. Kebebasan yang tak lagi berguna bagi sesama, kebebasan yang berarti bagi si dia. Dia yang begitu banyak.
Mungkin seperti menghina, mencela atau mencaci. Tapi dengan semua yang sudah terjadi, rasa muak bercampur marah selalu ingin menyela untuk mengumpat pada mereka. Perjuangan dengan waktu yang tak sebentar, rasa sakit yang lebih dari sekedar ditinggal kekasih, pengasingan yang lebih lama dari sekedar tidak mengapdet status sosial media.Terlupakan dengan mudah. Dan dengan biadapnya lebih mengagungkan para pesohor layar kaca yang tak memberi dampak, hanyalah sekedar pemberi hiburan yang sebenarnya telah mengasingkan hidupnya dari apa yang terjadi disekitarnya. Miris, menyedihkan melihat mereka puas dengan apa yang mereka miliki. Seolah mereka seperti burung liar yang terbang begitu bebas, menari dan menyanyi di pagi hari, memaki terik siang, dan akhirnya bercerita kesepian tentang malam. Burung yang benar-benar lepas, tak terkurung dalam sangkar. Anggap saja mereka itu benar burung, sejenis hewan yang hanya mengerti bagaimana cara hidup untuk diri sendiri. Mengasingkan diri dari berbagai pemikiran yang memerlukan otak sebagaimana manusia normal yang berfikir dan lebih menikmati insting seperti bagaimana hewan berperilaku dengan mengisi perut, menjadi dominan dalam kelompok, memuaskan hasrat seks.
Kebebasan seperti inikah yang diharapkan orang-orang hebat sebelumku. Kebebasan yang penuh keluh kesah. Kebebasan yang diisi dengan kemalasan berfikir dan mengenal kebebasan itu sendiri.
"Siapa Munir, penyanyi kompetisi televisi ya?"
"Siapa Nelson Mandela? temennya Paul Walker ya?"
Mungkin kebebasan mereka itu berarti seperti masa peralihan dari sebuah cinta. Ketika cinta begitu mengikat dan tak dapat lagi dipertahankan maka akhiri saja. Lupakan semua hal tentangnya atau lebih trendi sering disebut Move On. Move On dari segala pengikat dari apa itu kebebasan, siapa yang berjuang demi kebebasan, bagaimana kebebasan itu dinikmati.
Kebebasan yang sejati tak pernah ada. Yang ada hanyalah kebebasan untuk mengingat apa, siapa, dan bagaimana hidup yang sejati bebas. Seperti burung yang terbang menikmati angin dan kembali ke sarang yang dibuatnya dengan perjuangan.
Posting Komentar