Teradang benar menyebutkan apa yang bukan sebenarnya lebih menyenangkan, serasa benar kedekatan itu ada. Menepatkannya ketempat yang nyaman tanpa ada batasan canggung dan asing. Ini tak lebih tentang bagaimana kita terbiasa memanggil atau dipanggil, sebuah nama.

Siapa tak mengenal King of Pop ya beliau adalah Michael Jackson, atau Mother of Monster julukan dari si insentrik Lady Gaga. Michael Jackson begitu melegenda dengan King of Pop karna tak dapat dipungkiri betapa besar andilnya dalam industri musik pop, karya yang abadi sebagai tonggak sejarah dan segala rekor yang tak ada tandingnya. Terlepas dari segala kontroversi dalam hidupnya perlulah memberi ruang untuk sekedar mengapresiasi semua karyanya. Sama halnya dengan perempuan yang mendobrak segala tatanan, segala pakem untuk bermusik atau berbusana Lady Gaga benar seorang Mother of Monster untuk Little Monster (julukan untuk fans Lady Gaga).Dengan semua julukan yang mereka dapat tak semata hanya sebuah paduan kata melainkan sesuatu yang berhasil mereka dapatkan dari diri mereka sendiri dan apresiasi karya mereka.

Tapi ini tentang aku bukan mereka. Bukan tentang seseorang yang mempunyai nama untuk dikenal banyak orang. Seseorang yang tak mempunyai karya apapun untuk dikenang atau benar hanya sebuah pengakuan diri sendiri. Tak ada sedikitpun keinginan untuk memberi beban orang lain untuk mengerti. Hanya ini adalah keberanian untuk menolak menjadi kurcaci di negeri raksasa. Tertunduk tak berarti meski ada kekuatan yang sanggup untuk melawan. Menebus segala diam dan segera mengganti semua kesunyian menjadi gemuruh, sekedar tawa atau lebihnya caci maki yang bergelora.

Pertama perkenalkan namaku Heru Kristiawan, nama yang tak pernah ku ketahui apa makna dari doa yang disimpan dalam setiap hurufnya. Tak perlu juga kalian tahu apa artinya karna itu urusan orang tuaku. Ini tentang hal ingin aku bagikan pada kalian apa yang ada dikepalaku selama ini. Sebuah hal bodoh yang diantara sekitarku menjadi gambaranku, mereka memanggilku "Wagu".

Wagu adalah sebuah kata dari bahasa jawa, atau bahasa sansekerta yang berarti tidak pantas. Atau dalam perkembangannya sering disama artikan dengan sifat bodoh, sesuatu yang tidak keren, dan juga hanya sebuah pecundang. Tapi mungkin benar nama ini begitu nyaman bersamaku, hampir semuanya ada padaku. Sifat bodoh, sifat yang selalu ingin aku jaga baik sekarang atau nanti karna menjadi bodoh adalah penolakan untuk puas terhadap segala ilmu yang pernah masuk dalam perangkat lunak dikepala kecil ini. Sesuatu yang tidak keren, sesuatu yang benar benar aku hindari baik dalam berbicara atau berpenampilan karna keren hanyalah bagi mereka yang kurang mensyukuri apa yang telah dimiliki, berasa tampil dengan segala serba baru serba bermerek dan segala bla bla bla...omong kosong. Dan juga pecundang, emm...ini sebenarnya hanyalah penilaian bagi orang lain karna menurutku menilai sebatas sundut pandang tak ubahnya hanya seperti anjing, selalu terlihat hitam putih. Penghakiman terlalu prematur untuk sebuah makhluk yang dibekali cipta, rasa, dan karsa.

Dari segala hal diatas "Wagu" adalah tentang keberanian menjadi seseorang yang berbeda. Berbeda itu pilihan, tapi keseragaman hanya akan menjadi pemaksaan sebuah kebenaran. Sama seperti ketika ada sebuah golongan agama yang begitu mayoritas, merasa begitu perkasa dengan jumlah dan begitu seporadis menindas mereka yang tergolong dalam kelompok minoritas. Sehingga keseragaman seperti sebuah awal dari paham fanatisme. Pengakuan kuasa terhadap kebenaran versi mereka. Tetapi menjadi terlalu berbeda juga seperti berenang ditengah lautan lepas dan dikelilingi sekelompok hiu yang lapar, hanya menunggu dimakan atau menenggelamkan diri dan akhirnya mati tanpa menjadi arti. Berbeda itu harus berani, berani menjadi seorang ragu. Persetan dengan segala tafsir keyakinan adalah kunci dari sebuah hasil tanpa pernah meragu. Seorang pun perlu sebuah keraguan untuk benar yakin pada sebuah pilihan. Misalkan untuk benar yakin pada seorang yang akan dijadikan pasangan hidup kita harus meragu, dalam ragu ada satu niat pasti ingin mencari sebuah jawaban dari keraguan dan akhirnya kebenaran dari keraguan akan menjadi dasar dari sebuah pilihan layak atau tidaknya dia. Sebuah cara dengan memaksimalkan rasa gelisah, dalam kegelisan tentu akan ada waktu untuk merenung dan berdiskusi kesejatian yang ada didalam hati.

Lalu kemungkinan lain wagu adalah pencarian dari bahagia yang sebenar-benarnya. Karna "wagu adalah bahagia tanpa alasan".