Perantauan, adalah langkah yang terlalu jauh dari kampung halaman. Menelan rumah dan segala manisnya kasih sayang keluarga ke dalam ulu hati, karena mengingat rumah sudah terlalu nyeri. Membentangkan jarak dan waktu hanyalah nama lain dari merantau. Selebihnya tak lain tak bukan demi isi tabungan yang cukup untuk pulang.

Ansan adalah nama lain dari kampung halaman, kebersamaan, dan segenap kerinduan. Adalah Ansan sebuah kota dari sebuah negara bernama Korea Selatan. Negeri dimana bertegur sapa harus dengan membungkukan badan seperti paria berjumpa kesatria. Negeri dimana tergesa-gesa adalah keharusan. Etos kerja keras dan disiplin sebagai jaminan. Tetapi itu tak berlaku ketika berada di Ansan.

Ansan adalah liburan. Karena tak setiap waktu dapat bertandang kesana. Aku, kamu, dan kita mungkin terlalu menikmati jarak hingga kadang lupa bahwa jarak yang sebenarnya hanyalah kapital dan jadwal yang terus banal. Lalu Ansan hadir sebagai jalan tengah. Bukan jalan pulang, hanya jalan tengah. Yang harusnya belum tuntas dapat sedikit tertuntaskan. Seperti menikmati semangkuk bakso panas di tengah keseharian bersama kimchi. Atau bernyanyi dan menari dengan iringan lagu negeri sendiri. Waktu di Ansan tak bergerak dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tetapi dari satu tawa ke tawa yang lain.

Ansan adalah tawa. Karena luka hanya mampu luluh oleh tawa. Ansan dengan rapi membungkus tawa dalam kemasan kebersamaan. Kebersamaan memang menjadi hal yang mahal, karena setiap masing-masing terlalu sering dihinakan oleh minim waktu walau sekedar bertarap muka apalagi mitos semacam liburan.

Ansan adalah figura. Figura bagi potret kehidupan dalam perantauan di Korea Selatan. Ia yang menyangga sebuah kertas penuh warna dalam ingatan perantauan. Bukan hanya hitam putih cerita yang berbisik dengan nyaring di telinga kerabat, teman, atau pasangan di kampung halaman. Yang menjadi pelindung akal sehat untuk tetap menjadi manusia. Di keseharian yang penuh dengan badan yang lelah namun harus tangguh beradu dengan ketangkasan mesin yang pongah.

Hingga akhirnya Ansan tak lebih dari sebuah paradoks dari waktu. Ia dapat menjadi kebersamaan ketika datang namun segera berganti menjadi kesendirian ketika keadaan menuntut kembali pada sirkus pertunjukan mesin dan manusia. Ia juga mampu mengembangkam senyum manusia yang tulus dan membaliknya menjadi senyum penuh topeng kepalsuan.