Thousand Candles Lighted, and each candle is a prayer
Let us break the darkness through this little candle light
Let us throw the darkness through this little candle light
Thousand flowers bloom, and each flower is a hope
Let us be the people who bring a better tomorrow
With strength and hope we cover it by love
Only with strength and hope we bring a better tomorrow
Only with strength and hope we build a better tomorrow
I know someone standing forward in his believe in
The most person with a big hope and strength
And a part of him has grown in me
Inspired my whole life
he brings me to a new vision of life.. as time goes by
even death do us part
separate us in a distance but not in heart
but the spirit stay somewhere in my heart
give me a reason to never giving up
and he's not afraid of the dark
cause the dark is part of our life
but he's worry for the dimness,
cause the dimness means you're giving up
(Endah n Rhesa - A Thausand Candles Lighted)
Entah apa yang saya pikirkan hingga ketika mendengarkan lagu Endah N Rhesa diatas, teringat akan satu nama yang saya hormati dalam hati. Munir Said Thalib, mungkin nama yang begitu kurang familiar untuk sebagian orang lebih banyak menjadi penikmat layar televisi dengan tayangan sinetron stripping dan hingar bingar berita infotaimen. Tetapi ketika nama ini kita tanyakan pada orang yang gemar membaca sejarah atau setidaknya peduli pada negeri ini pasti mereka akan menceritakan riwayatnya layak seorang super hero dari Indonesia. Munir begitu nama ini lebih dikenal, atau terbiasa dipanggi lebih akrab dengan Cak Munir. Pria kelahiran Malang, 8 Desember 1965 ini seperti penerang sekaligus harapan bagi sejarah Indonesia ketika negeri ini masih terjebak dalam gelap tirani. Bagaimana tidak, Munir adalah penegak isu kemanusian terdepan terhadap segala kebengisan kekuasaan dalam sejarah yang ada di negeri ini. Banyak kasus ia tangani dari kasus Marsinah (seorang aktifis buruh yang dibunuh), kasus penghilangan aktifis dan mahasiswa di masa reformasi, tragedi Semanggi, hingga kasus pelanggaran HAM di Timur Timor. Masih banyak lagi kasus yang ia tangani. Kebanyakan kasus yang ia tangani melibatkan orang-orang yang memilki kekuasaan.
Namun itu semua tak menyurutkan langkah Cak Munir untuk tetap berusaha menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas oleh kekuasaan. Hingga pada tanggal 7 September 2004, Indonesia dibuat berduka karena salah satu putra terbaik bangsanya telah meninggal. Kabar ini datang dari negeri yang jauh, dari negeri yang menjadi penjajah negeri ini. Belanda mengabarkan bahwa Cak Munir telah menghembuskan nafas terakhirnya dari perjalanan pesawat Singapura-Belanda. Kematian yang tak terduga, karena saat itu Cak Munir pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi S2. Lebih tak terduga setelah diperiksa pihak yang berwenang disana, Cak Munir dinyatakan dibunuh dengan diracun.
Kini, setelah hampir sepuluh tahun kematiannya. Penanganan kasus ini belumlah secara maksimal. Meski pelaku pembunuhan telah diperkarakan dan mendapatkan hukuman, tetapi otak dari pembunuhan ini belumlah terungkap. Banyak usaha telah dilakukan dan yang paling konsisten adalah aksi kamisan. Aksi damai yang beratribut serba hitam yang dilakukan setiap hari kamis dan bertempat di depan Istana Negara. Bukan hanya meminta keadilan untuk penuntasan kasus Cak Munir, tetapi juga untuk kasus penghilangan aktifis dan mahasiswa yang hingga sekarang belum ada tindakan yang nyata dari negara.
Lalu mengapa harus mengingat Cak Munir?
Terlalu banyak hal yang bisa membuat kita kagum hingga mungkin dapat menyebutnya seperti super hero. Benar super hero, orang yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi tunggu dulu, Cak Munir hanyalah manusia biasa. Jika Cak Munir hanya manusia biasa, lalu apa kekuatannya hingga disejajarkan dengan tokoh super hero? Tokoh super hero yang biasa kita kenal melalui komik memang terlihat keren dengan kostum dan kekuatan diluar kekuatan manusia normal. Cak Munir memang tak memiliki itu semua. Cak Munir hanya memiliki kekuatan berupa keberanian. Keberanian untuk berjuang melawan ketidakadilan dan kekuasaan yang semena-mena. Keberanian membela orang yang tertindas oleh aturan hinggan perpanjangan tangan tiran.
Keberanian juga menjadi alasan utama yang mengantarkan Cak Munir untuk menemui mautnya. Bolehlah kita menghitung berapa orang yang memiliki keberanian serupa Cak Munir, jumlah jari tangan mungkin masih tersisa untuk menghitungnya. Cak Munir juga bukan termasuk jejeran pahlawan yang dikenalkan atau diajarkan di bangku sekolah. Memang bangsa ini mungkin kurang menghargai pelaku sejarah yang berpengaruh untuk bangsanya. Maka perlulah kita untuk mengingatnya sebagai sedikit terang yang berselimut kegelapan dalam sejarah bangsa Indonesia. Pada suatu ketika presiden kita Bapak Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah berkata "Munir murdered case is a test of our history". Tapi seperti semua janji gombal dan omong kosong yang telah banyak kita dengar selama ini. Hingga masa akhir jabatannya kasus munir masih saja terbengkalai, dilupakan dan seolah-olah dianggap sudah selesai dengan ditangkapnya Pollycarpus.
Munir tetap ada dan berlipat ganda.
Menolak lupa itulah yang coba terus dilakukan banyak orang yang peduli akan ketidakadilan dalam berbagai kasus penanganan pelanggaran HAM. Sebuah usaha kolektif untuk memberi kesadaran setiap orang akan pentingnya menegakkan keadilan HAM di Indonesia. Di negeri ini sendiri masih banyak orang yang tak dapat mendapatkan haknya selayaknya manusia. Larangan untuk beribadah, perampasan lahan, hingga penganiayaan atau pembunuhan atas nama penegakan aturan. Tanpa disadari banyak masyarakat yang masih terlena dan malas untuk ikut peduli. Terhipnotis akan imaji kehidupan hingar bingar yang ditawarkan hampir setiap saat oleh layar kaca di ruang keluarga.
Menolak lupa untuk kasus Cak Munir pada khususnya, penanganan yang masih setengah hati dari negara. Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan menolak lupa. Menolak lupa akan perjuangan yang telah dilakukan Cak Munir dalam membela hak orang lain yang dirampas oleh aturan dan kekuasaan. Perjuangan yang tak mudah karena melawan rasa takut akan berbagai ancaman yang datang. Walau pada akhirnya raga Cak Munir harus dibuat menyerah oleh racun arsenik segelintir orang yang haus kekuasaan. Tetapi keberaniannya untuk melawan rasa takut diri sendiri adalah warisan yang akan terus hidup. Bukan hanya untuk saat ini, mungkin juga akan abadi.
Membangunkan kesadaran dan membangkitkan keberanian untuk setiap orang adalah tugas kita. Mengingat pada penerang dalam kegelapan bernama Munir. Menyalakan penerang-penerang yang baru untuk mengusir kegelapan di negeri ini. Dengan kesadaran dan keberanian menjadi api jiwa.
Jika membangunkan kesadaran terlalu sulit untuk dilakukan setidaknya kita bukan menjadi bagian orang yang malas untuk mengingat. Karena dalam usaha melawan kejahatan kemanusiaan tak ada tempat untuk abu-abu, menjadi barisan dalam solusi atau bergabung dalam bagian masalah. Mendiamkan kejahatan adalah sama dengan turut berpartisipasi di dalamnya. Tak pernah ada usaha sia-sia melawan penindasan. Dalam perjuangan untuk kemanusiaan tak pernah ada usaha kecil, usaha besar atau usaha yang tak berguna. Semua usaha memiliki perannya masing-masing.
Posting Komentar